Khotbah Perjanjian Baru

Mungkinkah Allah Telah Kalah?

Mungkinkah Allah Telah Kalah? (Yohanes 19:28-30, Filipi 2:5-11) oleh: Andy Kirana Kata “corona” itu berasal dari bahasa Latin yang artinya “mahkota.” Sebuah mahkota adalah simbol kuasa dan otoritas. Demikian pula virus corona yang sudah lebih satu tahun ini menjadi pandemi, memiliki kuasa yang sangat besar untuk meluluh-lantakkan hampir semua sendi kehidupan manusia.  Virus ini juga berdampak pada gereja-gereja di seluruh dunia, sehingga tidak bisa melaksanakan ibadah seperti biasanya. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang yang mempertanyakan keberadaan Allah. Di manakah Tuhan? Apakah Allah sedang melakukan karantina mandiri, sehingga sulit bahkan tidak bisa diakses? Mungkinkah Allah kalah dan tidak berdaya menghadapi covid-19?

Dalam ibadah Jumat Agung ini secara khusus kita merayakan penderitaan dan kematian Kristus di atas kayu salib. Penderitaan dan kematian merupakan peristiwa pahit dan berduka. Jika demikian, mengapa gereja menyebut kisah penderitaan dan kematian Kristus dengan “Jumat Agung?” Bukankah lebih tepat kita sebut “Jumat Kelabu”, “Jumat Suram”, “Jumat Sedih”, “Jumat Berduka”, “Jumat Ratapan”, “Jumat Berkabung”, “Jumat Tragedi”, atau “Jumat Kalah?” Di mana letak ke”Agung”annya? Di mana kemegahannya? Di mana kemenangannya? Bukankah itu berarti rencana Allah gagal dan rencana Iblis berhasil? Bukankah itu berarti Iblis menang dan Allah kalah?

Oleh karena itu pertanyaan besar yang harus direnungkan dan dijawab adalah “Mungkinkah Allah telah kalah?”

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus…

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita memerhatikan kenyataan tentang salib Kristus. Pertama, Kristus mengalahkan musuh. Memang benar ada pandangan yang menyatakan bahwa Allah telah kalah. Pandangan ini menganggap bahwa Iblis memperoleh kemenangan dengan membunuh Tuhan Yesus melalui salib. Iblis menang pada hari Jumat Agung, karena dia berhasil memengaruhi dan mengendalikan semua pihak khususnya Sanhedrin, Herodes Antipas, dan Pontius Pilatus. Mereka sepakat untuk menghukum Kristus dengan hukuman salib. Kalau begitu, apakah benar Iblis pada hari Jumat Agung berhasil mengalahkan Tuhan Yesus, tetapi akhirnya Iblis dapat dikalahkan pada hari kebangkitan Kristus di hari Paskah? Jikalau benar bahwa Kristus pernah dikalahkan oleh Iblis, berarti kita mengakui bahwa Iblis dapat mengalahkan dan membunuh Tuhan Yesus. Padahal dalam Yohanes 14:30 Kristus menyatakan:“…sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku.” Iblis tidak memiliki kuasa sedikit pun atas diri Tuhan Yesus. Injil tidak pernah menyebutkan bahwa Iblis berhasil membunuh Tuhan Yesus, karena Kristus tidak dapat dikalahkan atau dibunuh oleh Iblis. Kristus adalah Sang Firman Allah yang memiliki segala kuasa baik di surga maupun di bumi. Allah berkuasa penuh atas segala sesuatu, termasuk Iblis.

Kedua, Kristus menyerahkan nyawa. Mari kita mengarahkan mata ke Tempat Tengkorak (Golgota) untuk melihat fakta tentang kematian Kristus. Yohanes menulis dalam Injilnya: Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (Yohanes 19:30). Tuhan Yesus “menundukkan kepala-Nya” untuk menunjukkan penyerahan-Nya kepada kehendak Allah dan kepatuhan-Nya sampai mati. Dia bukanlah korban keadaan. Dia memegang kendali sepenuhnya. Dia bukan seorang martir. Yesus tidak dibunuh, tetapi dengan sukarela Dia “menyerahkan nyawa-Nya.” Hal ini menerangkan pernyataan-Nya sendiri dalam Yohanes 10:17-18, “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Kristus wafat karena menggenapi rencana Bapa dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna, yang dipersembahkan dengan sukarela, atas dasar kasih kepada umat manusia. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *