Khotbah Perjanjian Lama

Musim-musim Kehidupan

Musim-musim Kehidupan (Pengkhotbah 3:1-13)

oleh Andy Kirana

 

Shalom. Puji Tuhan saya boleh bersama-sama dengan Saudara-saudara semuanya dalam ibadah yang diberkati ini. Sekarang saya mau mengajak Saudara-saudara dalam perjalanan rohani. Kita akan melintasi setiap musim dalam kehidupan kita bersama-sama dengan Tuhan. Sesuai dengan tema khotbah saat ini, Seasons of Life.

Siap Saudara? Baiklah kita mulai perjalanan kita dengan membuka Alkitab kita dari Kitab Pengkhotbah pasal 3 ayat 1 sampai dengan ayat 13. Mari kita akan baca bersama-sama ayat 1 lebih dahulu.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

 

Ada waktunya. Ada musimnya. Persis seperti musim-musim yang kita jalani. Ada musim panas, ada musim penghujan. Ini menunjukkan pada satu hal yang sangat penting bahwa Allah menetapkan musim-musim ini untuk kita lalui. Kita tidak bisa milih. Dan, musim-musim di dalam hidup kita ini selalu berubah. Coba pikirkan, jika hidup ini tidak berubah, betapa monotonnya hidup kita. Aku ingin hidup di musim panas terus. Aku akan lewati hidup di musim dingin terus. Aku akan jalani hidup di musim hujan terus. Sangat membosankan. Namun, pada kenyataannya kita bergembira dengan perubahan musim. Setiap musim mempunyai daya tarik khususnya sendiri, warna-warna, bau dan suasana yang berbeda. Betapa kreatifnya Allah karena telah memikirkan perubahan-perubahan itu dengan indahnya.

Musim kehidupan apa saja yang sudah ditentukan Allah yang harus kita lalui bersama-sama dengan Tuhan?

Mari kita perhatikan ayat 2 sampai dengan ayat 8. Inilah musim-musim yang ada di dalam kehidupan manusia.

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Mari Saudara perhatikan ayat yang kedua. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal atau mati. Nah inilah yang menjadi patokan di dalam musim-musim yang sudah ditetapkan oleh Allah dalam kehidupan manusia. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati. Dan di antara lahir dan mati itulah peristiwa-peristiwa di ayat selanjutnya sampai ayat 8 itu terjadi. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam, dan seterusnya. Inilah suatu pola, ini adalah suatu pattern yang ditetapkan oleh Allah di dalam musim kehidupan manusia yang harus dijalaninya.

Apa yang diajarkan oleh Allah melalui musim-musim ini, Saudara? Allah mengajarkan bahwa kehidupan Saudara dan saya senantiasa bergerak dari satu musim ke musim yang lain.

Atau menurut istilahnya Pdt. Wahyu Pramudya, hidup bergerak dari satu kutub ke kutub lainnya. Suatu ketika di kutub ini saya merasakan kesedihan, tetapi kesedihan ini bukan sesuatu yang sifatnya menetap, bukan sesuatu hal yang abadi, tapi merupakan situasi sementara. Karena apa? Karena kutub kesedihan ini akan bergerak menuju ke kutub yang memberikan kita sukacita. Bila hidup manusia sudah ditetapkan dengan sempurna oleh Allah, maka ketika Saudara saat ini merasakan kesedihan, merasakan ada kesusahan, ada persoalan, ada sakit-penyakit, bersabarlah. Karena apa? Karena dukacita itu akan segera bergerak menuju sukacita. Tidak ada air mata yang abadi. Itulah yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita. Sebaliknya, Saudara. Apabila saat ini Saudara merasakan sukacita, engkau bisa tertawa, bisa senang… ingat-ingat, Saudara… bisa jadi tangisan sudah menjemput di depan kita. Karena apa? Karena sukacita itu pun bukan hal yang langgeng. Sukacita juga bisa bergerak ke kutub kesedihan. Tidak ada kebahagiaan yang abadi. Ini peringatan bagi yang muda-muda, terutama yang mau marriage. Tidak ada kebahagiaan abadi di dunia ini. Jadi, kalau ada yang menjanjikan: bersamaku engkau akan hidup bahagia selama-lamanya, bohong itu. Ya, bohong! Justru di sinilah Allah ingin mempersiapkan kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak ada suatu pengalaman kehidupan yang baik maupun pengalaman kehidupan yang buruk akan bertahan selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *