Khotbah Perjanjian Lama

Musim-musim Kehidupan

Sekarang saya ingin menunjukkan kepada Saudara, bagaimana kita menerapkan ayat-ayat ini di dalam kehidupan kita. Saya minta ada seseorang yang bisa membantu saya maju ke depan. Ada? Mungkin pemusik, salah satu, bantu Pak Andy. Dengan mas siapa? Hansen. Oke.

Saudara yang dikasihi Tuhan, kita akan belajar bersama Mas Hansen. Baik. Saya mau tanya Mas Hansen, di rumah punya jam tidak? Punya Lima. Di mana aja tuh? Di kamar tiga, di ruang tamu dua. Lima-limanya masih hidup? Mati tiga. Oo mati tiga. Kasihan. Yang di mana yang hidup? Yang di ruang tamu. Oo yang di ruang tamu. Sama yang di mana? Sama yang di kamar. Yang hidup ada dua. Nah sekarang saat Mas Hansen melayani di gereja, Mas Hansen bisa memastikan tidak jam yang di ruang tamu, sama di kamar tetep hidup? Bisa. Bisa melihat? Tidak bisa. Tapi kok bisa memastikan kalau hidup? Percaya. Ya, betul. Betul ya, karena percaya.

Nah, sekarang saya mau memperlihatkan kepada Mas Hansen (menunjukkan jam dinding). Jam ini hidup tidak, Mas? Hidup. Kalau ini hidup, apa tanda-tandanya? Jarumnya bergerak. Cuman itu? Apa lagi? Itu aja. Sik, coba didengarkan, mesinnya berbunyi atau tidak? Berbunyi. Berarti mesinnya hidup ya. Ya, baik. Itu tanda-tanda kalau jam ini hidup.

Sekarang jamnya tak bawa menjauh. Mas Hansen berbalik hadap sana. Mas Hansen bisa melihat jam ini tidak? Tidak bisa. Bisa mendengarkan detakan jamnya tidak? Tidak. Nah sekarang, Mas Hansen bisa memastikan tidak bahwa jam ini hidup. Bisa. Pasti? Mengapa bisa memastikannya? Oo tadi hidup. Iya. Percaya sama Pak Andy tidak? Percaya. Lha kalau baterenya tak copot kan mati, Mas heee…..nggak kok. Masih percaya kan? Percaya. Nah, karena hari ini adalah gift, jam ini persenan untuk Mas Hansen. Terima kasih ya Mas.

Saudara yang dikasihi Tuhan. Tanpa kita sadari sesungguhnya jam ini mengajarkan kepada kita: sekalipun sekarang ada di gereja, kita bisa memastikan bahwa jam yang di rumah kita bekerja atau bergerak. Demikian juga dengan Allah. Tuhan tetap bekerja setiap waktu sekalipun kita tidak tahu, tidak mengerti, tidak bisa menyelami cara Allah bekerja. Sekarang bagaimana dengan Saudara? Kalau Tuhan sudah mau jadi jam untuk kita, maukah kita juga jadi jamnya Allah di dunia ini? Bagaimana caranya jadi jam? Yuk, kita baca bareng-bareng.

Dilihat orang atau tidak, dia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Walau tak seorangpun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Teruslah berbuat baik kepada sesama kita, meskipun perbuatan kita tidak dinilai dan diperhatikan orang lain. Ibarat jam dinding yang terus bekerja. Walau tidak dilihat, namun senantiasa memberi manfaat bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *