Khotbah Perjanjian Lama

Must Become A True Worshipper

Must Become A True Worshipper

Amos 5:21-27

Oleh: Himawan

 

Pendahuluan

Saudara-saudara,  tahu tentang sebuah grup music bernama True Worshipper? Berapa banyak di antara saudara yang mencintai lagu-lagu dari grup music ini?  Saya salah satu fans dari grup musik ini.  Terakhir mereka melaunching album dengan judul God is Our Victorydimana lagu-lagu mereka sangat memberkati saya.

Ketika saya pertama kali mengenal mereka, saya mulai bertanya kenapa ya mereka memakai nama True Worshipper dan bukan yang lain?  Kemudian saya merenungkannya, dan saya dapati True Worshipper secara harafiah mempunyai arti penyembah yang benar.  Penyembah yang benar adalah penyembah yang hidup benar di hadapan Allah.  Sehingga, dengan nama ini, saya duga, para punggawa band ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa penyembahan yang sejati bukanlah sekedar menyanyi dengan kencang atau melompat-lompat disertai musik yang hingar-bingar.  Tetapi, penyembahan yang sejati adalah bagaimana kita dapat memberikan seluruh kehidupan kita untuk hidup dengan benar bagi kemuliaan nama Tuhan.

Saudara-saudara,  setiap orang percaya kepada Kristus memiliki natur sebagai seorang penyembah di hadapan Tuhan.  Saya adalah penyembah, saudara adalah penyembah, kita semua adalah penyembah-penyembah Tuhan.  Tapi pertanyaannya, apakah kehidupan kita selama ini menyatakan penyembahan yang benar kepada Tuhan, atau kita hanya menyembah ketika kita ada di gereja?  Selebihnya, hidup kita bukan lagi penyembahan kepada Allah, melainkan menyembah pemuasan nafsu, egoisme, peninggian diri, materi, dan lain-lainnya.

Saudara, jangan sampai Tuhan mendapati penyembahan kita adalah penyembahan yang sia-sia dan tak bermakna. Karena itu mestilah kita mengerti bagaimana penyembahan bisa menjadi penyembahan yang sejati, sebuah penyembahan yang dapat menyenangkan hati Tuhan.  Kita semua harus menjadi penyembah yang sejati, we must become the True Worshipper!

 

Saudara-saudara,  menjadi penyembah yang sejati berarti berusaha memiliki hidup yang benar di hadapan Tuhan

 

Pertanyaan bagi kita semua sekarang adalah, bagaimanakah sebenarnya hidup yang benar di hadapan Tuhan itu? Saudara, hidup yang benar adalah:

 

(1) Hidup yang menyatakan keadilan dan kebenaran (ay. 21-24)

 

Penjelasan

Saudara-saudara,  keadilan dan kebenaran adalah dua aspek penting dalam kehidupan.  Timbulnya kesadaran akan hak asasi manusia, dan protes-protes kemanusiaan, mengindikasikan bahwa manusia sesungguhnya ingin memiliki kehidupan yang adil dan benar yang dapat dirasakan seluruh umat manusia.  Lalu apa yang perikop ini ajarkan mengenai keadilan dan kebenaran?

Saudara-saudara,  sesuai dengan judulnya, kitab ini ditulis oleh seorang peternak domba dan pemetik pohon ara dari kota kecil Tekoa bernama Amos.  Bisa dibilang ia adalah seorang yang sangat oposisioner, seseorang yang melawanterhadap kondisi bangsa Israel pada waktu itu.  Seorang Nabi yang diutus oleh Allah untuk melayani ketika raja Yerobeam II berkuasa di Israel, sedangkan pada waktu bersamaan  raja Uzia berkuasa di Yehuda.  Terutama, Amos melakukan pelayanannya di Israel bagian utara, tempat Yerobeam berkuasa.

Saudara,  Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Allah secara langsung untuk menjadi berkat di antara bangsa-bangsa.  Tentu saja, sebagai bangsa yang mengaku umat pilihan Allah, Israel berusaha membangun relasi dengan Tuhan melalui ibadah-ibadah yang mereka lakukan.  Ibadah seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan Tuhan dan memuliakan nama-Nya.  Membuat nama Allah dapat dikenal diantara bangsa-bangsa di sekitar mereka.  Tetapi, apa yang terjadi dengan Israel, umat Allah itu?  Dengan mengejutkan di dalam perikop ini Tuhan berfirman:Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.  Ternyata, alkitab secara gamblang menjelaskan bahwa Allah telah menolak ibadah dan penyembahan bangsa Israel.

Jika kita perhatikan ayat 21-23, dan membaca keterangannya sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab Imamat, sesungguhnya, kita akan melihat bahwa ibadah yang umat Israel kerjakan begitu rumit dan detail.  Ibadah yang terdiri dari perayaan, ritual pengurbanan dan bahkan puji-pujian.  Tetapi Allah tidak berkenan kepada itu semua, tujuh kata yang bernada negatif diperlihatkan disini mulai dari ayat 21 sampai 23, menunjukkan betapa Allah telah menolak ibadah dan ritual yang dikerjakan umat Israel.  (Bacakan ayat 21-23, dengan emphasis kepada tujuh kata-kata negatif).  Saudara, jika diteliti, kata membenci, yang dipakai dalam perikop ini, dalam bahasa aslinya memakai kata sane, sebuah kata yang menyatakan betapa Allah tidak suka kepada penyembahan Israel dan menggambarkan begitu buruknya keadaan bangsa Israel di dalam penyembahan mereka pada waktu itu.  Mengapa Tuhan begitu membenci dan kemudian juga menolak ibadah bangsa Israel?

Saudara, sebelumnya, kita perlu mengerti bagaimana kondisi kehidupan bangsa Israel waktu itu.  Kondisi sosial Israel pada waktu itu sebenarnya sedang mengalami keterpurukan.  Keadilan sosial tidak terdapat di dalam kehidupan bangsa Israel.  Secara keseluruhan kitab ini ditulis untuk mengkritik kondisi Israel yang tidak berpihak kepada rakyat jelata.  Pada masa itu yang berkuasa adalah orang-orang yang punya uang.  Pedagang-pedagang besar, dan para lintah darat membuat kelompok petani yang merupakan etnis mayoritas merasakan penderitaan.  Para petani tidak diperhatikan, ditindas sehingga tidak mampu mengembangkan usaha mereka.  Kita bisa melihat dengan jelas keadaan ini dalam pasal 2:6-7 (bacakan).  Dengan demikian Amos sebagai wakil Allah yang Adil dan Benar sesungguhnya sedang berusaha melawan kapitalisme yang saat itu sedang terjadi di tengah-tengah bangsanya. Amos, Sang Pembela Keadilan Allah itu,  mengkritik mereka, para penindas yang merupakan orang-orang kaya dan mapan, perempuan-perempuan kaya, pedagang yang tidak jujur, penguasa yang korup, para hakim dan ahli hukum yang oportunis, dan imam-imam yang palsu.  Saudara, telah kita dapati bahwa kehidupan Israel tidak menunjukkan kehidupan sebagai umat Allah.

Dengan latar belakang tersebut, kita telah menemukan jawaban dari pertanyaan kita tadi, Tuhan membenci dan menolak ibadah bangsa Israel karena kehidupan mereka tidak menunjukkan keadilan dan kebenaran.  Mereka mengangkat tangan, menyanyi dan memuji Tuhan, tapi hidup mereka jauh dari keadilan dan kebenaran!

Bagi Allah yang penting bukanlah rutinitas mereka beribadah (ay.21), bukan korban-korban bakaran dan korban sajian yang dipersembahkan (ay.22), bukan domba gemuk tanpa cacat (ay.22), bukan nyanyian dan tarian kegembiraan sebagai ungkapan penyembahan umat pada khaliknya (ay.23), bukan!  Tetapi Allah berkata: “Jauhkanlah semua itu.”  Bukan berarti semua itu, yaitu korban, nyanyian dan persembahan tidak penting.  Itu semua perlu dan penting, tetapi jika itu semua itu dilakukan di hadapan Allah dengan tidak disertai dengan hidup yang benar dan adil, semuanya akan sia-sia!  Tuhan berkata: “Aku membenci, dan menghinakan semua itu”  Jika demikian, untuk apa semua ritual ibadah yang kita lakukan?  Ternyata, bagi Allah hidup dalam kebenaran dan menyatakan keadilan bagi sesama jauh lebih penting dari hanya sekedar rutinitas ibadah.

Saudara, ayat 24 mengatakan biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir, di dalam ayat ini kita melihat dua kata yang saling berkorelasi satu dengan yang lain yaitu keadilan dan kebenaran.  Dalam bahasa aslinya, keadilan memakai kata mispat dan kebenaran memakai kata tsedaqa.  Di dalam kitab Amos, dua kata ini seringkali dipakai secara bersama-sama dan hal itu muncul tiga kali, yang dapat kita lihat dalam 5:7, 6:12b dan ayat 24 yang baru kita baca.  Secara khusus, di dalam bagian ini, kata keadilan dan kebenaran yang dipakai menyatakan bahwa Allah menginginkan keadilan dan kebenaran agar dapat diperlihatkan dalam kehidupan sebagai umat Allah.  Biarlah kehidupan yang menyatakan keadilan dan kebenaran, sungguh nyata di dalam kehidupan umat Allah sehari-hari.

Saudara-saudara,  Rick Warren pernah mengatakan, bahwa penyembahan bukanlah sekedar musik atau ritual yang kita lakukan di gereja, tetapi penyembahan adalah sebuah gaya hidup.  Penyembahan yang sebenarnya adalah seluruh kehidupan kita yang kita berikan bagi Allah.  Tuhan tidak hanya melihat penyembahan kita secara fenomenal atau yang kelihatan saja, tetapi melihat seluruh kehidupan kita, apakah hidup kita sebenarnya menunjukkan kehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Allah.   Sudahkah kita memperhatikan keadilan dan kebenaran di dalam kehidupan kita?

Saudara-saudara,  penulis kitab Amsal dalam 20:3 menyatakan ide yang mempertegas bahwa Allah jauh lebih menginginkan kehidupan yang memperhatikan keadilan dan kebenaran daripada ritual-ritual yang kita kerjakan.  Dimana dalam ayat ini mengatakan “Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan dari pada korban”, sangat jelas, dalam penyembahan kita, Tuhan menginginkan hidup yang benar di mata-Nya, hidup yang memperhatikan keadilan dan kebenaran  jauh melebihi ritual dan penyembahan yang kelihatan.

Saudara-saudara,  bukankah Yesus Kristus di dalam hidupnya adalah contoh nyata pribadi yang memperhatikan keadilan dan kebenaran?  Ingatkah ketika Yesus mengkritik kaum farisi dan saduki, serta imam-imam di bait Allah, yang begitu menekankan pelaksanaan hukum taurat, namun nyatanya mereka hidup munafik, mencari keuntungan mereka sendiri, dan memanfaatkan bait Allah untuk menimbun kekayaan.  Saudara, jangan sampai Yesus pun mengarahkan telunjuk-Nya kepada kita dan berkata “hai, engkau orang munafik!”

 

Ilustrasi

Saudara-saudara,  ada suatu masa dalam sejarah gereja Eropa, yang disebut abad kegelapan, yang berlangsung setelah era Abad pertengahan dan menjelang masa Reformasi.  Hal ini berkaitan dengan kehidupan spiritual dari rohaniwan dan gereja pada waktu itu.  Waktu itu gereja yang berkuasa adalah gereja Katolik Roma, gereja yang memegang hak dan kewenangan satu-satunya dalam menafsirkan Kitab Suci.  Gereja Katolik Roma menetapkan hal-hal yang detail dan rumit di dalam liturgi ibadah dan cara hidup umatnya.  Setiap ada dosa yang dilakukan oleh umat, umat mereka diharuskan melakukan pengampunan dosa di hadapan para biarawan, dan kemudian membayar surat pengampunan dosa atau indulgensia itu kepada klerus.                                                                                                                                                                                                                                                                                                    Mereka begitu menekankan ritual keagamaan, tapi bagaimana dengan kehidupan sosial mereka pada waktu itu?  Sebenarnya mereka menyiratkan ketidakadilan dan ketidakbenaran!  Bukankah hanya mereka yang kaya yang mampu membeli surat pengampunan dosa? Sedangkan yang miskin, hanya mereka biarkan diam dan mereka takut-takuti masuk ke dalam neraka!  Lalu bagaimana dengan kehidupan rohaniwan? Wah, parah sekali, rahib-rahib dan para pengurus gereja, hidup dengan foya-foya, aturan hidup tak lagi mereka perhatikan, mereka hanya mengambil untung dari persembahan jemaat dan memakai uang umat demi suka-suka mereka sendiri.  Bahkan, para pembesar-pembesar, hidup di dalam kemapanan dan kenyamanan mereka sendiri!  Mereka tidak menjadi pemyembah-penyembah yang benar.

Saudara-saudara, bagaimana dengan ibadah dan kehidupan kita pada masa ini? Apakah kita sudah menyatakan keadilan dan kebenaran, jikalau tidak, maka kita seakan-akan masih hidup di dalam abad kegelapan.  Gereja Katolik Roma pada era pertengahan gagal untuk memperhatikan keadilan dan kebenaran, dengan itu mereka gagal untuk hidup benar di hadapan Tuhan, gagal memberikan penyembahan yang sejati kepada Allah Pencipta langit dan bumi.  Padahal, sebagai umat Allah, we must become the true worshipper.

 

Aplikasi

Saudara-saudara,  bagaimanakah dengan kehidupan kita di hadapan Tuhan?  Sudahkah kita hidup dengan memperhatikan  keadilan dan kebenaran? Atau kita tidak memperhatikan mereka yang miskin, yang tak berdaya dan tak terperhatikan?  Padahal, ketika kita beribadah di hadapan Tuhan, kita bisa bernyanyi dengan sekuat tenaga, menangis, dan mengaku-ngaku bertobat di hadapan-Nya.  Bisa juga, kita memberikan persembahan yang luar biasa banyaknya bagi gereja kita, dan itu terlihat di warta gereja.  Tapi, jika kita masih hidup dengan tidak memperhatikan keadilan dan kebenaran, jika kita masih bersikap sewenang-wenang dengan pembantu kita, karyawan kita, jika kita tidak memperhatikan hidup mereka dan memaksakan pekerjaan kepada mereka.  Maka penyembahan dan ibadah kita sia-sia belaka.

Saudara-saudara,  jika ada diantara kita yang masih hidup seperti itu, mari kita bertobat, merendahkan diri di hadapan Allah, dan kemudian memperbaiki hidup kita, dengan mulai memperhatikan keadilan dan kebenaran.  Bersikap adil dan benar kepada pegawai-pegawai kita, karyawan kita, orang yang berada di bawah kita.  Mulai memperhatikan mereka yang miskin dan tidak dianggap, mereka yang hidup tergerus oleh kekuasaan kaum kapitalis.  Mari kita bersama-sama belajar untuk melakukan hal tersebut, berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan, dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, ketika kita mampu untuk hidup benar, maka kita akan menjadi seorang True Worshipper.  We must become the true worshipper

 

Saudara, jawaban yang kedua, hidup benar di hadapan Allah adalah:    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *