Renungan Berjalan bersama Tuhan

Naik Darah dan Kesabaran

Naik Darah dan Kesabaran

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar” (Amsal 14:17).

Stephen mendengar dari temannya, dan teman ini mendapat cerita dari temannya lagi, bahwa Stephen itu orangnya bawel, cerewet, dan suka ikut campur urusan orang lain. Begitu mendengar cerita itu, Stephen marah besar dengan Joni, yang menyampaikan cerita itu dengan polosnya. Padahal Stephen dan Joni bersahabat akrab. Hari itu terjadi pertengkaran yang hebat. Sampai pada akhirnya Joni sudah minta maaf, meskipun ia tidak bermaksud mengatakan Stephen itu orang bawel, cerewet, dan suka ikut campur urusan orang lain. Ia hanya mendengar kata orang, dan orang itu juga mendengar dari kata orang lain lagi. Jadi, apa yang disampaikan Joni itu berita berantai, dari orang yang satu ke orang yang lain dan seterusnya.

Memang di antara kita ada teman-teman yang begitu cepat marah dan bertindak emosional. Belum melihat dan mendengar dengan baik, tetapi sudah marah lebih dulu. Bahkan orang lain belum selesai menyampaikan berita, langsung saja dipotong dan marah-marah. Mungkin kalau tidak marah, belum terasa lega ….

Itulah yang dimaksudkan oleh Amsal, bahwa “orang yang lekas naik darah, berlaku bodoh”. Bahasa yang dipakai oleh Amsal adalah bahasa kiasan, yaitu “naik darah”. Ternyata istilah ini sudah ada sejak zaman Salomo, bahkan sebelumnya. Siapa pun yang mudah marah, ditengarai bahwa ia adalah orang yang mudah naik darah. “Darah, bisa naik dan turun ….” Ketika darah naik, tekanan semakin keras, dan aliran darah itu semakin cepat bergerak dalam seluruh pembuluh darah. Jika tidak kuat, pembuluh darah itu pecah dan kemudian mengalami perdarahan otak, saat itu juga mengalami stroke. Bisa tidak sadar, pingsan, bahkan ada yang mengembuskan napas terakhirnya. Kita juga sering menjumpai ada orang yang kalau berbicara dengan nada yang sangat tinggi, sampai-sampai seluruh mukanya menjadi merah! Itulah tanda-tanda orang yang lekas naik darah!

Maka bagi Amsal, orang yang lekas naik darah adalah orang yang berlaku bodoh. Mengapa? Karena orang yang lekas naik darah adalah orang yang tidak pernah memeriksa semua perkara dengan baik terlebih dahulu. Dengan demikian, semakin banyak membuat kesalahan, karena ia sendiri belum tahu dengan benar, apa yang menjadi masalahnya, tetapi sudah terlanjur marah terlebih dahulu. Kemarahan selalu membawa pada situasi dan kondisi yang tidak enak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Demikian juga untuk kesehatan diri sendiri, karena orang yang suka marah selalu mengalami ketegangan. Maka Amsal menyatakan bahwa orang yang gampang marah adalah bodoh, sedangkan orang yang tidak mudah marah adalah orang yang bijak. Pasti ia lebih sabar dari pemarah. Orang yang sabar dapat menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu, diam dan mampu meredam gejolak yang ada dalam dirinya, untuk kemudian mengatur jadwal untuk membahasnya dengan hati dan pikiran yang tenang. Mari kita terus belajar menjadi bijak dan bukan menjadi orang yang lekas naik darah. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *