Renungan

Nazar

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Pikir baik-baik sebelum menjanjikan kurban kepada TUHAN. Boleh jadi engkau akan menyesal kemudian.

(Amsal 20:25—BIS)

Ia seorang pemimpin yang dihormati oleh bangsanya sekaligus ditakuti oleh lawan-lawannya. Roh Tuhan menyertai dirinya sehingga meraih kemenangan di medan perang. Ketika ia menghadapi sebuah peperangan besar, ia bernazar bahwasanya jika Tuhan memberikan kemenangan, maka apa pun yang pertama kali keluar dari kemah untuk menyambutnya, ia akan persembahkan sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Sebuah nazar atau janji sukarela di hadapan Tuhan. Sebuah nazar yang tidak dapat ditarik kembali setelah seseorang mengucapkannya. Tuhan memberikan kepadanya kemenangan besar. Namun, hatinya hancur. Anak perempuan satu-satunyalah yang pertama kali menyambutnya selepas kemenangan besar itu. Ia yang bernazar itu adalah Yefta,  dan kisah hidupnya tertulis di dalam kitab Hakim-Hakim.

“Pikir baik-baik sebelum menjanjikan kurban kepada TUHAN. Boleh jadi engkau akan menyesal kemudian” (Amsal 20:25—BIS). Peringatan Amsal ini begitu jelas dan lugas: Jangan berbicara, apalagi menjanjikan kurban secara sembarangan kepada TUHAN. Pikirkan baik-baik sebelum bernazar. Jangan bernazar secara emosional tanpa pertimbangan. 

Mengapa orang kerap kali bernazar atau menjanjikan kurban kepada Tuhan secara sembarangan? Kadang kala ada yang merasa bahwa jika Tuhan tidak dijanjilkan sesuatu yang luar biasa, maka Tuhan tidak akan bertindak. Nazar menjadi sarana untuk “menyuap” Tuhan. Tentu saja ini adalah hal yang keliru. Nazar adalah sebuah pengakuan bahwa tanpa Tuhan tidak ada sesuatu pun yang akan terjadi. Sebagai bukti dari pengakuan itu, maka kita pun bernazar.

Jangan sembarangan berjanji sebab Tuhan menanti bukti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *