Khotbah Perjanjian Baru

NGLAKONI

Matius 9:35-38

Pdt. Andy Kirana

Apakah Saudara pernah mendengar atau mengatakan kata “JARKONI”? Isa ujar ning ora isa nglakoni (Bisa berbicara tetapi tidak bisa melakukan). Siapa pun akan jengkel dan marah jika ucapan “jarkoni” itu ditujukan kepadanya. Namun ucapan “jarkoni” bisa menjadi pengingat bagi kita, agar supaya tidak hanya pandai memahami dan mengatakan kebenaran firman Tuhan saja (bahkan posting firman di FB, WA, dan IG), tetapi juga pandai melakukan firman-Nya. Ini bukan perkara mudah, namun bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Kita bisa melakukannya dengan cara melatih diri “nglakoni” melalui hal-hal kecil. Hal itu mengingatkan saya akan bapak (almarhum), yang selalu memberi nasihat setiap kali bertemu dengan saya, “Ndik mumpung bapakmu jik orip, sekaren sak iki. Percuma koen nyekar nèk bapakmu wis matèk!” (“Ndik, selagi ayahmu masih hidup, taburi bunga sekarang. Percuma kamu menabur bunga ketika ayahmu sudah meninggal”). Setidaknya, nasihat itu sudah saya praktikkan semasa kedua orang tua saya masih hidup. Sampai saat ini saya masih terus belajar “nyekar” – belajar “nglakoni.” Sekarang, bagaimana caranya kita bisa “nglakoni”: melakukan firman dan melayani Allah melalui teladan Tuhan Yesus dalam berbelas kasihan kepada manusia?   

Di ayat 35 dikatakan bahwa Tuhan Yesus berkeliling ke semua kota dan desa di Galilea dengan melakukan tiga hal utama: mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Semua ini digerakkan oleh “belas kasihan Tuhan Yesus kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (ayat 36). Tuhan Yesus tidak sekadar bersimpati, namun juga berempati kepada yang menderita. Orang yang menderita tidak pernah menjadi objek dari kebaikan hati-Nya, tetapi menjadi subjek yang ditempatkan sebagai sahabat dan saudara. Mereka bukan sasaran pemberian bantuan “super mie”, tetapi menjadi sahabat di mana kita ikut merasakan kesedihannya dan terlibat dalam menangani penderitaannya.

Dalam bacaan Injil hari ini, di satu sisi Tuhan Yesus berbicara tentang hal belas kasihan; di sisi lainnya Tuhan Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya bukanlah ”jarkoni.” Dia tidak hanya memberikan pengajaran tentang belas kasih kepada manusia, namun juga mempraktikkan belas kasih itu secara nyata. Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita, agar hidup sebagai pelaku firman. Gereja tidak hanya menjadi pemberita firman, namun harus hidup sebagai komunitas pelaku firman, terutama dalam belas kasihan. Jangan sampai belas kasihan cuma menjadi tema yang dikhotbahkan dari mimbar, atau sekadar ramai didiskusikan dalam Pemahan Alkitab.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… Karya Tuhan Yesus dan belas kasih-Nya ini dilanjutkan dengan pembicaraan tentang kebutuhan pekerja untuk menuai, karena “tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.” (ayat 37-38). Untuk itulah Tuhan Yesus menyatakan tugas panggilan-Nya bagi kita saat ini. Kita dipanggil untuk menjadi pelayan Allah, mewujudkan belas kasih-Nya bagi sesama. Sekarang, maukah kita memiliki hati seperti Tuhan Yesus yang memandang sesama sebagai sahabat; siap untuk menjadi gelisah di tengah penderitaan orang lain; siap terlibat dan berjalan bersama dalam kesulitan? Inilah panggilan hidup kita yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *