Renungan Berjalan bersama Tuhan

Nikmatnya Roti Kering

Nikmatnya Roti Kering

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

 “Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, daripada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan” (Amsal 17:1)

Apakah kita tahu pepatah Jawa yang sering kita dengar, “Mangan opo ora mangan, sing penting ngumpul” (Makan atau tidak makan, yang penting berkumpul)? Tentunya pepatah ini dipahami dengan pengertian dan tekanan bukan pada makan atau tidak makannya, tetapi pada pentingnya “berkumpul” sebagai anggota keluarga besar. Begitu pentingnya anggota keluarga berkumpul, sampai makan atau tidak makan pun bukan masalah. Berkumpul menjadi wujud yang nyata, yang tampak dan dapat dilihat, bagaimana keluarga itu rukun dan hidup damai, saling mengasihi dan menguatkan. Berkumpul juga sebagai wujud kehidupan yang saling menolong, menopang, dan membantu. Berkumpul menjadi bagian hidup yang enak dijalani karena penuh dengan kegembiraan dan sukacita.

Amsal memberikan ilustrasi yang dikaitkan dengan makanan, “Lebih baik sekerat roti yang kering.” Sekerat itu sama dengan secuil roti. Orang yang makan sekerat roti, pasti tidak dapat menikmatinya, tidak merasakan enaknya, apalagi puas dan kenyang. Sekerat itu hanya sekadar mencicipi. “Sekerat roti kering”: sudah sekerat ditambah kering! Jelas roti itu tidak enak dimakan, juga pasti tidak enak rasanya.

Namun bagi Amsal, lebih baik makan roti kering yang sekerat itu namun disertai dengan ketenteraman daripada makan daging serumah tetapi disertai dengan perbantahan. Orang biasanya makan enak, bahkan bisa kenyang dan puas karena yang dimakan adalah daging. Namun, ketika acara makan tersebut diwarnai suasana dan lingkungan yang benar-benar tidak memberikan rasa nyaman dan damai sejahtera karena semua orang yang sedang makan saling berbantahan, maka makanan yang enak itu pun terasa tidak enak! Bayangkan, apakah dengan suasana yang demikian kita bisa menikmati enaknya makanan? Tentunya tidak, bukan? Maka Amsal memberikan gambaran yang sangat kontras, yakni lebih baik makan sekerat roti kering tetapi seluruh keluarga mengalami damai sejahtera. Roti sekerat yang mendatangkan damai sejahtera, sukacita, dan rasa nyaman. Bukankah ini merupakan kebutuhan dasar kita semua? Amsal sangat menekankan pentingnya kehidupan kita dalam satu rumah untuk mempunyai suasana, lingkungan, dan kondisi yang penuh damai sejahtera dan bukan pertengkaran. Bukankah makan bersama itu sebagai sarana persekutuan yang indah? Semua orang merayakan hari besarnya dengan berpesta, bisa pesta sederhana atau mewah, baik itu pesta ucapan syukur ulang tahun, hari pernikahan, pembukaan toko atau menempati rumah yang baru, dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *