Renungan Berjalan bersama Tuhan

Nilai yang Hilang

Nilai yang Hilang

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 17:1-28

Ketika seseorang hadir dalam komunitas orang banyak, maka komunitas itu akan membentuk budayanya sendiri. Contoh, keluarga yang satu pasti tidak sama dengan keluarga yang lain, karena masing-masing memiliki corak dan pola hidupnya sendiri. Ada budaya yang menekankan corak yang sama, misalnya semua anggota keluarga menganut satu kepercayaan, tetapi ada juga keluarga yang para anggotanya memeluk berbagai kepercayaan dan bisa hidup bersama dengan rukun. Ternyata budaya itu melekat pada pribadi seseorang untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya, bahkan bisa sampai lintas kepercayaan. Atau sebaliknya, budaya bisa membentuk pribadi yang mengembangkan komunitas yang fanatik, baik dalam kepercayaan maupun kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, kita melihat bahwa budaya juga terus-menerus mengalami perubahan. Perubahan itu terjadi karena banyak faktor, misalnya faktor lingkungan yang ada di sekitar kita, orang-orang yang sering berinteraksi dengan kita, bahkan sarana-sarana informasi yang begitu cepat dan mudah dimiliki. Itu semua dapat memengaruhi perubahan suatu budaya. Sebagai contoh, sebuah keluarga di suatu desa terpencil. Keluarga ini hidup dengan tatanan masyarakat yang berpegang pada kesopansantunan dan kehidupan gotong royong yang sangat kuat. Mereka saling tolong-menolong, saling bertegur sapa, memakai tata cara yang berbeda untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau yang lebih muda, dan mengenal baik semua tetangga mereka, bahkan yang rumahnya berjarak puluhan kilometer jauhnya dari mereka! Betapa terkejutnya keluarga ini ketika pindah ke kota besar. Ternyata pola hidup penduduk di kota besar sangat berbeda dengan kehidupan yang selama ini mereka jalani. Tidak sampai satu tahun, keluarga ini telah berganti pola hidup yang sangat bebas. Budaya yang dulu mereka ikuti sudah digantikan total dengan budaya penduduk kota besar. Ketika mereka kembali ke desa, mereka merasa menjadi orang yang “aneh”, dan demikian pula dengan lingkungan keluarga mereka yang di desa merasa kedatangan orang-orang “asing”.

 

Kita tahu bahwa budaya akan terus berubah karena kita selalu berinteraksi dengan siapa pun dan apa pun. Interaksi itu selalu mendatangkan perubahan. Yang menjadi pokok persoalan, perubahan itu mengarah ke mana? Dari cerita di atas, ternyata bukan pola orang desa dengan tatanan masyarakatnya yang rukun dan semangat gotong royongnya yang harmonis yang memengaruhi tatanan masyarakat kota, melainkan sebaliknya, pola hidup individualistis telah menghilangkan semangat gotong royong dan kerukunan yang dulu sangat dijunjung tinggi.

 

Kita harus benar-benar waspada! Jika tidak, maka budaya kita bisa kehilangan nilai-nilai yang luhur dan benar. Yang tinggal hanyalah budaya-budaya yang tidak memperhatikan kesopansantunan, terlalu bebas, dan melakukan segala sesuatu sekehendak hati. Beberapa nilai yang baik dan benar menjadi luntur dan digantikan dengan nilai-nilai yang egoistis. Amsal berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17). Tuhan menghendaki agar setiap orang bisa mengasihi orang lain yang membutuhkan. Kasih itu diwujudkan justru pada saat kesukaran menimpa. Kasih itu mau berbagi, mengatasi, menolong, memberikan jalan keluar, menguatkan, memberikan pengharapan tatkala orang lain putus asa, dan memampukan orang untuk bangkit kembali. Jangan biarkan nilai persahabatan hilang karena budaya bebas yang individualistis. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *