Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pembalasan Pasti Lebih Kejam

Pembalasan Pasti Lebih Kejam

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Janganlah engkau berkata: ‘Aku akan membalas kejahatan,’ nantikanlah Tuhan, Ia akan menyelamatkan engkau.” (Amsal 20:22)

Kita menjalani hidup ini ternyata bukan saja den gan pikiran atau rasio, melainkan juga dengan perasaan. Ternyata perasaan itu memegang peranan yang sangat penting dalam hidup kita; bahkan perasaan itu dapat mengalahkan segalanya, termasuk  pikiran kita. Bukan itu saja, perasaan itu ternyata juga bisa menyimpan rasa bahagia atau rasa senang selama-lamanya. Ini sama seperti rasio yang mempunyai memori untuk menyimpan ingatan yang baik maupun yang tidak benar. Ingatan yang terus dapat diingat sampai lanjut usia atau yang mudah dilupakan, tergantung pada apa yang masuk ke otak dan peristiwa apa yang terjadi. Demikian juga dengan hati, yang dapat menyimpan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Kalau masalah yang terjadi begitu menyakitkan dan membuat hati terluka, maka masalah itu pasti akan tersimpan cukup lama, baik dalam hati maupun dalam pikiran. Apakah kita pernah mengalami kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan? Pengalaman seperti peristiwa duka yang mendadak, dikhianati oleh sahabat sendiri di tempat kerja, perselingkuhan, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan sebagainya. Semua peristiwa itu pasti menyayat hati dan tidak mudah dilupakan.

Pengalaman hidup yang demikian benar-benar menjadi pengamatan Amsal. Memang harus disadari bahwa dalam pergaulan bermasyarakat, bersosial, berkeluarga, dalam pekerjaan dan pelayanan, dapat terjadi hal-hal yang baik maupun yang tidak benar; yang memberi kesan sukacita atau dukacita. Kesan yang penuh sukacita akan terus menjadi cerita yang menyenangkan, membangun dan memberikan semangat bagi orang yang mendengarnya. Tetapi di sisi lain, kesan yang menyebabkan duka dan membuat hati terluka akan menjadi cerita yang tidak menyenangkan karena kisah itu akan terus diulang dengan sikap hati yang terluka. Bukan itu saja, juga ada rasa sakit hati yang diungkapkan dengan dendam, ia tidak akan merasa puas sebelum pembalasan terjadi. Ada yang terus mengatakan bahwa sebelum dendam itu diwujudkan, maka masalah ini belum selesai. “Aku dihancurkan, maka aku juga yang akan meluluhlantakkan dia.” Pembalasan itu harga mati yang sudah tidak bisa ditawar lagi! Ternyata pembalasan itu bisa lebih kejam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *