Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pemimpin yang Berhikmat

Pemimpin yang Berhikmat

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Raja-raja 3:16-28

Masih ingat kisah Salomo yang menghakimi dua ibu yang memperebutkan seorang anak karena anak salah seorang dari mereka mati? (1 Raja-raja 3:16-28). Ibu yang satu mengatakan bahwa anak yang hidup itu adalah anaknya, dan ibu yang lain juga mengatakan hal yang sama. Tidak ada saksi dalam kasus itu. Lalu Salomo berkata kepada ajudannya untuk mengambilkan pedang dan memerintahkan agar anak yang hidup itu dipenggal menjadi dua dan dibagikan kepada masing-masing ibu. Sebelum bayi itu dibelah, salah satu ibu memohon agar Raja Salomo tidak membelah anak itu, dan memberikannya saja kepada ibu yang satunya. sedangkan ibu yang satunya itu mengatakan bahwa ia tidak keberatan anak itu dipenggal menjadi dua. Dari reaksi kedua ibu itu, Salomo mengerti dengan pasti bahwa ibu yang sesungguhnya dari bayi itu adalah ibu yang melarang anaknya dipenggal karena tidak mungkin ia rela dan tega melihat anaknya dibunuh!

Mulai saat itu Salomo terkenal sebagai raja yang penuh hikmat! Dari mana ia memiliki hikmat itu? Alkitab menyaksikan bahwa Allah mengaruniakan hikmat secara khusus kepada Salomo. Bukankah kita juga bisa meminta karunia tersebut bagi kepemimpinan dan pelayanan kita? Jika kita dipanggil untuk menjadi pemimpin dan pelayan-Nya, bukankah hikmat itu sangat penting untuk mengatur kehidupan umat-Nya? Tuhan memberikan hikmat kepada Salomo karena ia memintanya. Ketika Tuhan menawari apa yang hendak dimintanya, Salomo tidak meminta kekayaan, melainkan hikmat Tuhan! Ini berarti bahwa hikmat Tuhan bisa kita minta dalam rangka menjalankan kepemimpinan dan pelayanan kita.

 

Kalau hikmat adalah salah satu karunia Tuhan, apakah hikmat tidak bisa dipelajari? Tentu tidak bisa, bukan? Kita diberi rasio atau kemampuan untuk berpikir dengan baik agar dapat memberi keputusan yang berhikmat. Keputusan yang berhikmat sangat erat dengan kepekaan kita terhadap orang lain. Kalau kita peka terhadap orang lain dengan segala masalah dan pergumulannya, maka kita juga akan mampu memberikan keputusan yang berhikmat. Salomo memahami pergumulan seorang ibu yang anaknya dicuri orang lain, apalagi ketika anak itu hendak dibunuh dan dibagi dua. Kasih seorang ibu itulah yang dibaca, dilihat, dan dihayati oleh Salomo sehingga ia bisa berkata, “Berikan bayi itu kepada ibu yang melarang anaknya dibelah menjadi dua.” Kepekaan terhadap masalah dan pergumulan hidup dapat menolong seseorang mengambil keputusan yang berhikmat. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Mintalah kepada Tuhan untuk terus memberi hikmat di dalam hidup kita sehingga kita berjalan dalam kebenaran dan keadilan, serta menjadi berkat bagi orang banyak.
  2. Tuhan, berilah hikmat kepada para pemimpin bangsa dan negara kami sehingga mereka mampu memerintah bangsa dan negara ini dengan benar, khususnya dalam memberantas korupsi yang sudah merambat ke seluruh jajaran pemerintah, dari pusat sampai daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *