Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pemimpin yang Menghamba

Pemimpin yang Menghamba

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Markus 10:35-45

Dalam kehidupan bergereja, kita sudah tidak asing lagi mendengar kata-kata “pelayan”. Itulah jabatan anak-anak Tuhan yang menerima panggilan untuk melayani-Nya. Kita semua dipanggil untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya. Tetapi sejauh mana kita memahami makna kata tersebut? Bagaimana jika di sisi lain ada yang mengatakan bahwa kita dipanggil untuk menjadi “pemimpin” gereja? Bukankah keduanya tampak kontradiktif? Di satu pihak disebut sebagai pelayan dan di pihak lain sebagai seorang pemimpin! Padahal kedua istilah jabatan itu sangat berbeda! Kerja dan tugas seorang pemimpin tidak sama dengan seorang pelayan. Demikian pula sebaliknya. Apalagi kalau kita mau melihat kata asli dari pelayan, yakni “budak”.

Budak adalah orang yang dipekerjakan dengan paksa, tidak mendapat upah, selain makanan seadanya. Ia tidak memiliki hak suara sehingga ia juga tidak dapat berunjuk rasa untuk menuntut haknya! Jika ia nekad melakukannya, ia akan mengalami penderitaan yang sangat berat, dan kapan saja dapat dibunuh. Ini sangat kontras dengan seorang pemimpin yang memiliki status sosial jauh lebih tinggi daripada budak. Ia bahkan dapat memerintahkan orang untuk membunuh budak-budak yang tidak menyenangkan hatinya. Memang arti kata kedua jabatan itu bertolak belakang. Namun, dalam pelayanan, istilah itu justru saling melengkapi dengan harmonis. Dan itulah yang seharusnya terjadi dalam sebuah pelayanan yang indah.

 

Seorang pelayan Tuhan adalah pemimpin; dan dalam pelayanan-Nya, seorang pemimpin adalah hamba. Konsep ini tidak berlaku di dalam dunia sekuler. Di dalam dunia sekuler, perbedaan antara pemimpin dan pelayan memang dikontraskan dan status, peran, dan kedudukan mereka sangat berbeda! Tetapi tidak demikian dalam kehidupan pelayan Tuhan. Ia adalah seorang pemimpin sekaligus pelayan. Pelayan yang juga pemimpin. Di mana korelasinya? Jika kita dipanggil menjadi pemimpin yang sekaligus pelayan, maka hal itu berarti bahwa ketika kita menjalankan kepemimpinan kita, kita melakukannya dengan jiwa seorang pelayan. Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak memerintah, menguasai, atau berhak menentukan keputusan tanpa dijiwai hati seorang pelayan. Contoh konkret dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). Hakikat seorang pemimpin yang sekaligus pelayan adalah “rela memberi” dan bukan “menuntut”. Jiwa seorang pemimpin dengan karakter pelayan adalah “memberi”. Ia datang untuk melayani dan bukan dilayani! Pemimpin yang menjadi hamba adalah pemimpin yang memiliki jiwa pelayanan dan bersedia melakukan kehendak tuan-Nya, yaitu Allah Bapa. Jelas di sini tidak ada unsur hitung-hitungan untung rugi! Pemimpin yang menghamba selalu berupaya menyenangkan orang lain. Tuhan Yesus adalah Pemimpin yang memberi, bahkan memberikan tenaga, pikiran, hidup, dan nyawa-Nya bagi kita semua agar kita selamat. Dia adalah teladan pemimpin yang menghamba. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *