Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pencemooh yang Angkuh

Pencemooh yang Angkuh

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga.” (Amsal 21:24)

Setiap orang yang mempunyai banyak kelebihan dalam dirinya daripada orang lain, ia bisa merasa lebih tinggi dari siapa pun di sekitarnya. Jika ia mempunyai kedudukan yang memang tinggi di tengah masyarakat, ia akan merasa lebih daripada yang lain. Tidak banyak orang yang bisa mempunyai pangkat atau kedudukan di pemerintahan, perusahaan, atau dunia pendidikan, termasuk dalam pelayanan. Ketika seseorang bisa menduduki kursi-kursi itu, ia pasti harus melalui proses yang tidak mudah. Memang pada kenyataannya jika dibandingkan dengan orang lain pada umumnya, ia lebih daripada orang lain karena kesempatan untuk menduduki kedudukan itu sangat terbatas. Semakin tinggi kedudukannya, semakin sedikit kursi yang disediakan. Posisi atau jabatan sebagai presiden hanya ada satu. Karena hanya ada satu, maka untuk bisa duduk di kursi itu pasti tidak mudah, bukan?

Merasa lebih saat dibandingkan dengan orang lain akan memberikan dampak yang bermacam-macam. Pertama, ia bisa menjadi orang yang sewenang-wenang maupun menjadi diktator. Bertindak sewenang-wenang karena ia merasa mempunyai kedudukan. Semua orang yang berada di sekitarnya adalah bawahannya yang harus taat dan menuruti perintahnya. Perintah itu bisa dilontarkan dengan baik, tetapi bisa juga dengan cara yang sangat kasar dan menyakitkan.

Di sisi lain, Amsal menyebutkan tentang orang yang kurang ajar, yaitu orang dengan sikap yang tidak tahu aturan, sopan santun, tata krama, dan berani melawan sekalipun ia salah. Bagaimana seseorang bisa menjadi kurang ajar? Pertama, latar belakang pendidikan, baik formal maupun nonformal sangat berpengaruh besar untuk menjadikannya baik hati atau kurang ajar. Anak seusia Taman Kanak-Kanak juga bisa bertingkah laku kurang ajar dengan orang lain, temannya, atau orang yang lebih tua. Selain latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan anak-anak sejak kecil juga berpengaruh. Kalau seluruh lingkungan itu terdiri dari orang-orang yang bersikap kurang ajar, maka seorang anak akan memiliki pola hidup yang kurang ajar.

Kedua, dampak yang sering terjadi dari orang yang kurang ajar karena mempunyai kelebihan adalah ia akan menjadi orang yang sombong. Sikap ini bisa ia lakukan tanpa sadar ataupun secara sadar. Amsal menyebutnya sebagai pencemooh, yakni orang yang kesukaannya merendahkan orang lain dan menghina. Ia lebih suka mengejek orang lain dan bersikap sangat angkuh. Orang yang demikian adalah orang yang tidak pernah menjadi berkat bagi orang lain. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, pimpinlah aku supaya aku tetap menjadi orang yang rendah hati. Sekalipun Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk mempunyai kedudukan yang tinggi, biarlah kedudukan itu tidak memengaruhi relasiku dengan orang lain. Biarlah jabatan yang melekat pada diriku justru menjadikan aku pemerhati mereka yang menjadi bawahanku. Jadikan aku hamba-Mu yang setia.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja agar dapat terus mendampingi seluruh anggota jemaat untuk bertumbuh dengan baik, khususnya jemaat yang sedang menapaki karier atau yang sudah mempunyai kedudukan atau jabatan, supaya mereka semakin rendah hati dan saling memberi hormat kepada orang lain. Jangan sampai kedudukan atau jabatan yang melekat dalam diri mereka justru menjadi batu sandungan. Pimpinlah anak-anak Tuhan yang duduk dalam lembaga pemerintahan, perusahaan, dan sebagainya agar mereka menjadi saluran berkat Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *