Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pengalaman Kemuliaan Bagi Kristus

Pengalaman Kemuliaan Bagi Kristus

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Yohanes 1:1-18

Apakah kita pernah berpikir untuk melihat Allah? Siapakah Dia, Allah yang kita percayai itu, yang kepada-Nya kita diminta untuk mempertaruhkan seluruh hidup kita dalam kepasrahan total, yang karena Dia kita diminta untuk tidak perlu takut dan khawatir tentang masa depan? Pernahkah pikiran kita bergumul untuk mengenal Dia? Untuk mencari tahu siapa Dia? Yohanes dari awal sudah menandaskan bahwa “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yohanes 1:18). Siapa pun manusia yang diciptakan oleh Allah tidak akan pernah melihat Allah Sang Pencipta langit dan bumi itu. Alkitab telah menyatakan berkali-kali tentang siapa Allah itu! Alkitab yang adalah firman Tuhan menyatakan bahwa Allah yang benar adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Perjanjian Lama mengungkapkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia, tetapi manusia tidak pernah melihat seperti apakah Dia seutuhnya! Wujud Tuhan yang muncul beragam, seperti Musa melihat semak belukar yang menyala-nyala oleh api namun semak itu tidak terbakar; Abraham melihat seorang malaikat Tuhan yang memberitahu bahwa ia akan mempunyai keturunan sendiri; Sadrakh, Mesakh, dan Abednego melihat malaikat Tuhan yang bersama-sama dalam api yang membakar mereka. Dalam Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri-Nya semakin jelas. Dia yang tidak kelihatan itu menyatakan diri-Nya menjadi Manusia, yaitu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. “Firman itu telah menjadi manusia” (Yohanes 1:14). Dengan cara itulah akhirnya manusia benar-benar dapat mengenal Allah dengan jelas! Bukan lagi bayang-bayang seperti dalam Perjanjian Lama. Inilah yang disebut dengan pengenalan Allah yang progresif—dari yang tidak jelas menjadi semakin tampak dan jelas sehingga kita dapat mengenal Allah dengan baik dan benar. Mengenal pribadi dan sifat-sifat Allah Yang Mahakuasa, Mahaada, Mahabesar, Mahabenar, Mahakudus, Mahaadil, Mahakasih dengan nyata. Jadi, bukan mengenal melalui cerita yang disampaikan secara turun temurun dari abad ke abad, melainkan Allah itu benar-benar hadir bersama-sama dengan manusia, ikut merasakan penderitaan manusia, menanggung beban hidup manusia, ikut ambil bagian hukuman Allah—upah dosa ialah maut.

Semua itu dikerjakan oleh Tuhan Yesus dengan sempurna. Dia sama dengan kita, kecuali satu, yakni Dia tidak berdosa (Ibrani 4:15). Dia menjadi manusia karena satu tujuan, yakni untuk menyalamatkan manusia. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan manusia jika Dia tidak menjadi Manusia!

Di sinilah kita melihat “kemuliaan Kristus.” Dia Allah yang Maha segalanya telah rela menjadi manusia yang terbatas, yang terbatas oleh ruang dan waktu, memiliki kelemahan yang sama dengan manusia, bahkan melebihi manusia biasa, karena Dia hadir ke dalam dunia ini sebagai “Hamba Tuhan yang Menderita”. Penderitaan itu dijalani dengan penuh ketaatan sampai mati di atas kayu salib (Filipi 2:8). Dari kerendahan diri-Nya itu Allah meninggikan Dia sehingga semua bangsa bertekuk lutut menyembah dan semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah TUHAN! (Filipi 2:9-11). Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *