Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Pra Paska & Paska

Penghormatan Tertinggi Hanya bagi Sang Raja

Penghormatan Tertinggi Hanya bagi Sang Raja

Matius 27:32-44

Oleh: Tjia Djie Kian

Pendahuluan

Saudara-saudara, Taj Mahal adalah nama salah satu hotel termahal di India.  Walaupun harga kamarnya mahal, tahun lalu ada penyewa yang memborong semua kamar di hotel tersebut. Dia bukan raja minyak, juga bukan Malinda Dee, tetapi pemerintah Amerika Serikat.  Mereka juga menyewa semua kamar di dua hotel mewah lain di dekatnya.  Ini dilakukan waktu Presiden Obama mengunjungi India selama dua hari sambil membawa 800 orang staf termasuk secret service, pesawat tempur, kapal perang dsb.  Biaya kunjungan dua harinya adalah 500 juta dolar.  Sunguh mahal, tetapi bagi Amerika Serikat biaya itu masih dianggap wajar karena Obama sebagai pemimpin tertinggi Amerika perlu mendapatkan keselamatan dan kenyamanan yang paling tinggi.

Saudara, titel atau jabatan memang seharusnya membuat seseorang layak mendapatkan penghormatan yang sesuai. Tapi selain kepada mereka mereka yang bertitel, kita biasanya juga memberikan penghormatan kepada orang yang telah berjasa kepada kita terlepas dia bertitel atau tidak.  Saudarar, saya ingat waktu masih pemuda pernah menyumbang darah untuk seorang anak kecil yang menderita demam berdarah.  Saya kaget sekali waktu dua minggu kemudian dikirimin satu keranjang penuh buah-buahan segar dari orangtuanya: ucapan terima kasih karena saya ikut menolong anaknya sembuh.

Tetapi saudara, dari sekian banyak orang yang pernah hidup, yang sedang hidup dan yang akan hidup, sebenarnya hanya ada satu saja orang yang layak mendapatkan penghormatan tertinggi dari kita; penghormatan itu bukan hanya karena titelnya melainkan juga karena apa yang telah dilakukannya bagi kita. Orang itu adalah Yesus Kristus. Sayangnya, tidak semua orang bersedia melakukan hal ini, setidaknya itulah yang terjadi pada hari penyaliban.

 

Penjelasan

Saudara, penyaliban adalah puncak dari serangkaian penangkapan, persidangan dan penganiayaan yang dialami Yesus sejak malamnya. Setelah ditangkap di Getsemani, persidangan Yahudi menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus.  Hukuman itu disahkan oleh persidangan Romawi yang mendapatkan tekanan dari orang Yahudi.  Yesus juga menerima berbagai penganiayaan: Dia diejek, dijadikan mainan sebagai raja gadungan, diludahi, dipukul dan dicambuk.  Dan puncaknya adalah penyaliban di Golgota.

Alkitab tidak memberikan detail bagaimana Yesus disalib karena pembaca mula-mula sangat tahu kebrutalan penyaliban. Alkitab lebih tertarik memperlihatkan kepada kita respon orang-orang terhadap Yesus yang disalib dan respon Tuhan terhadap respon mereka.

Nah, Saudara, kalau kita lihat di perikop ini setidaknya ada lima kelompok orang yang memberikan respon kepada Yesus.

Kelompok pertama

adalah prajurit Romawi.  Mereka adalah orang-orang asing yang tidak kenal siapa Yesus.  Mereka hanya bertugas menyalibkan Dia.  Apa yang mereka lakukan kepada Yesus sebenarnya tidak istimewa karena mereka juga biasa melakukan hal yang mirip kepada orang lain yang disalib:  mereka memberi Yesus minum anggur bercampur dengan empedu yang pahit, mereka membuang undi untuk membagi baju Yesus dan duduk mengawasi-Nya, mereka memasang tulisan di atas salib dengan nada menghina: “Inilah Yesus, Raja Orang Yahudi”.  Mereka menyalibkan Yesus di antara orang-orang yang dianggap amat jahat oleh Romawi, yakni orang-orang Yahudi yang mencoba memberontak terhadap Romawi.  Semua yang mereka lakukan adalah penghinaan bagi Yesus.

Kelompok kedua

adalah orang-orang yang lewat di dekat salib.  Mereka adalah orang-orang Yahudi yang bersiap mengadakan perayaan Paskah.  Sebagian mungkin pernah melihat mukijzat yang dilakukan Yesus atau mendengarkan pengajaran Yesus.  Sebagian lagi mungkin pernah berteriak, “HOSANA!” ketika Yesus masuk ke Yerusalem sambil menaiki keledai. Mereka adalah orang-orang awam yang hanya tahu serba sedikit tentang Yesus.  Sambil menggelengkan kepala satu sama lain, mereka mengulangi begitu saja tuduhan yang dijadikan alasan pemberian hukuman mati bagi Yesus oleh pengadilan Yahudi.  Logika mereka sederhana: kalau memang Yesus mengklaim Dia adalah Anak Allah, yang punya hubungan erat dengan Allah, Dia pasti bisa turun dari salib.  Jadi kalau Allah tidak menyelamatkan-Nya, maka klaim-Nya pasti palsu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *