Renungan

Penilai yang Buruk

Penilai yang Buruk

 

Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian.

(Amsal 2:1-2)

 

Suatu kali, Alden anak kami yang pertama, meminta saya merekam aksinya yang menceritakan tentang lego kepunyaannya. Dengan lancar Alden berbicara dalam bahasa Inggris untuk menceritakan keunikan karakter setiap legonya. Saya heran dari mana anak ini belajar melakukan hal seperti itu? Ah, ternyata Alden selama ini adalah penggemar Evan Tube, salah satu channel di Youtube yang berisi banyak rekaman review [sharing informasi] mainan yang dilakukan seorang anak bernama Evan. Alden melihat beberapa video dan kemudian menirukan idolanya tersebut.

 

Anak-anak adalah peniru yang baik. Mereka akan dengan cepat meniru apa yang mereka dengarkan dan saksikan. Namun sayangnya, anak-anak adalah penilai yang buruk. Mereka belum mempunyai kemampuan atau kapasitas optimal untuk membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Yang jelas, mereka melihat, menyukai, dan kemudian menirukan, terlepas dari masalah benar atau salah.

 

Itulah sebabnya Amsal hari ini berbunyi, “Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian” (Amsal 2:1-2).

 

Amsal ini adalah ajakan kepada anak-anak untuk melaksanakan perintah orangtua agar bertumbuh dalam hikmat. Tentu saja sebuah perintah tidak akan menarik perhatian anak-anak kecuali diperlihatkan dalam bentuk tindakan sehari-hari. Perintah yang diberi contoh tindakan yang berulang-ulang akan menarik perhatian anak-anak untuk menirukannya.

 

Tugas kita sebagai orangtua bukan hanya memerintah, tetapi juga memberikan contoh melalui tindakan nyata agar anak-anak dapat melihat dan menirukannya.

(Wahyu Pramudya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *