Renungan

Penyesalan Datang Belakangan

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Dan pada akhirnya engkau akan mengeluh, kalau daging dan tubuhmu habis binasa, lalu engkau akan berkata: “Ah, mengapa aku benci kepada didikan, dan hatiku menolak teguran.

Amsal 5:11-12

“Penyesalan selalu datang belakangan. Kalau datang di awal itu namanya pendaftaran,” demikan seorang rekan membuka percakapannya. Walaupun ada nada canda dalam perkataan itu, tetapi sesungguhnya pesannya tepat. Penyesalan selalu menyusul belakangan, tak pernah datang di awal. Penyesalan terjadi ketika kita menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak kita lakukan atau malah kita lakukan dan ternyata itu membawa dampak yang buruk.

“Dan pada akhirnya engkau akan mengeluh, kalau daging dan tubuhmu habis binasa, lalu engkau akan berkata: ‘Ah, mengapa aku benci kepada didikan, dan hatiku menolak teguran.’” (Amsal 5:11-12). Amsal ini menggambarkan penyesalan seseorang di masa akhir kehidupannya. Apa yang disesalinya? Kebenciannya sendiri terhadap didikan dan teguran di masa mudanya. Penolakannya terhadap teguran dan didikan telah membuat kehidupannya penuh dengan penyesalan.

Tentu saja menerima didikan dan teguran bukanlah hal yang menyenangkan dalam jangka pendek, tetapi tentu saja bermanfaat untuk jangka panjang. Seperti ketika kita harus menelan obat yang pahit, hal itu tidak menyenangkan. Namun, obat itu kita butuhkan untuk pemulihan diri dalam jangka panjang.

Sebelum penyesalan datang di kemudian hari, marilah kita menata sikap agar mampu menerima dengan bijaksana segala teguran yang kita dapatkan.

Meskipun tidak menggembirakan, kita membutuhkan teguran dan didikan untuk pengembangan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *