Renungan Berjalan bersama Tuhan

Percuma Belajar Jika Menyimpang

Percuma Belajar Jika Menyimpang

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Hai anakku, jangan lagi mendengarkan didikan, kalau engkau menyimpang juga dari perkataan-perkataan yang memberi pengetahuan” (Amsal 19:27)

Apa yang sering dikatakan guru kepada murid-muridnya, baik di dalam maupun di luar kelas? Kata-kata apa yang sering kita dengar dari orangtua kita saat kita melakukan kesalahan yang sama berulang kali? Bukankah kita sering mendengar perkataan seperti ini, “Percuma saja ia diberitahu! Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri! Tak pernah satu kata atau satu perintah pun yang ia dengar dipikirkan lalu dilakukan!” Itulah keluhan seorang pendidik dan orangtua yang terus mengajar anak didiknya. Ternyata kita harus menyadari bahwa apa yang dilakukan dalam proses belajar mengajar, mendidik, dan mengarahkan pada jalan yang benar dan baik, tidak semudah yang kita harapkan. Proses belajar yang benar dan baik bukan seperti membalikkan telapak tangan kita. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada dasarnya, kita semua adalah orang yang sudah jatuh ke dalam dosa. Paulus mengatakan bahwa kita sudah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Maka yang ada di dalam diri manusia yang berdosa adalah kuasa dosa. Tidak heran kalau kuasa dosa itu selalu menolak apa yang baik dan benar. Proses belajar tidak pernah kita ikuti dan dengar dengan baik, apalagi dilakukan dalam kehidupan.

Inilah yang menjadi realitas dalam kehidupan kita sehari-hari. Sikap yang baik, benar, adil, penuh kasih, selalu mengalami penolakan daripada sikap yang tidak baik, tidak benar, dan tidak adil. Hal-hal yang buruk, yang tidak perlu diajarkan, sudah bisa langsung dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan berkata-kata kotor, misalnya, tidak pernah diajarkan, bukan? Tetapi kata-kata kotor ini sering diucapkan, bahkan bisa menjadi kebiasaan. Sikap iri hati, dendam, mau menang sendiri, egois, dan sebagainya, itu lebih dominan dalam kehidupan sehari-hari daripada menjalani hidup dengan penuh kesabaran, kasih, memahami orang lain, dan tidak mementingkan diri sendiri.

Amsal mengatakan dengan nada sangat keras, “Jangan lagi mendengar didikan.” Dengan kata lain, tolak saja semua bentuk didikan jika memang apa yang diajarkan itu sama sekali tidak didengarkan dan tidak dilakukan. Bagi Amsal, tidak ada gunanya mendengar didikan yang memberitahukan pengetahuan kebenaran jika hal itu sama sekali tidak dilakukan. Itu sama saja dengan orang yang memang tidak mau belajar dan tidak mau mengubah hidupnya. Siapa yang belajar pengetahuan kebenaran firman Tuhan dan mau mendengar serta melakukannya, maka ia menjadi orang yang bijaksana dan diberkati oleh Tuhan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tuntunlah hidupku ketika aku terus belajar tentang kebenaran firman Tuhan, belajar menjalani hidup ini, belajar bagaimana saling tolong-menolong. Ajarlah aku supaya tidak hanya sekadar mempelajari konsep kebenaran sehingga tahu konsep-konsep yang benar, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja untuk terus menekankan betapa pentingnya belajar firman Tuhan dengan baik. Pimpinlah kami supaya ketika mengajar, kami tidak hanya didengar dengan baik, tetapi juga mereka mau melakukan ajaran itu dengan benar. Jadi, tidak hanya didengar telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri sehingga tidak pernah mengalami perubahan hidup. Pimpinlah para guru Sekolah Minggu, pembimbing remaja, pendamping pemuda, supaya mereka dapat mengajar dan memberikan contoh yang benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *