Renungan Berjalan bersama Tuhan

Perempuan Cerewet!

Perempuan Cerewet!

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 9:13

Amsal kali ini mempunyai pengalaman unik, khususnya dalam relasi dengan kaum perempuan. Dalam pengajarannya tentang takut akan Tuhan dan bagaimana menjadi orang yang penuh hikmat, Amsal memberikan penghargaan atau upah dari orang yang takut akan Tuhan, yaitu umurmu diperpajang (Amsal 9:10-11). Setelah itu Amsal memberikan contoh yang sangat sederhana dari kehidupan orang yang takut akan Tuhan. Amsal mengatakan, “Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu” (Amsal 9:13). Tentunya ayat ini bisa membuat perasaan kaum Hawa tersinggung dan sakit hati! Mengapa disebutkan “perempuan” dan bukan “laki-laki”, apakah memang yang bebal dan cerewet adalah golongan perempuan? Oh … tentunya tidak demikian, bukan? Banyak laki-laki yang lebih bebal dan lebih cerewet daripada perempuan. Banyak perempuan yang tenang, diam, mampu menguasai diri, sopan, pandai, penuh hikmat, dan bijak. Bahkan tidak sedikit perempuan yang menolong dan mengatur kehidupan keluarganya dengan baik; yang membawa suaminya bertobat dan menjalani hidup yang benar. Dengan demikian, ketika kita membaca ayat itu, bukan berarti laki-laki lebih baik daripada perempuan, karena perempuan itu bebal dan cerewet! Tentunya bukan dalam pengertian yang demikian. Amsal dalam pengalaman hidupnya menemukan bahwa ada perempuan yang bebal, yang juga sama bebalnya dengan laki-laki. Perempuan bebal dan masih ditambah dengan cerewet.

Bebal mempunyai arti melakukan apa saja menurut kehendak diri sendiri; tidak peduli orang lain yang mengingatkannya. Orang bebal selalu merasa dirinya yang paling benar dan semua salah. Orang bebal biasanya keras kepala atau kepala batu … sama sekali tidak mau menerima perkataan, anjuran, dan nasihat dari orang lain. Sedangkan cerewet adalah orang yang suka bicara melampaui batas urusannya. Orang ini selalu ikut campur urusan orang lain. Ia menguasai semua pembicaraan yang ada dan mampu mengembangkan percakapan yang sederhana menjadi besar tetapi tidak bermakna. Ia seperti orang yang menguasai segala masalah, mahatahu, padahal tidak tahu masalah sebenarnya. Ia bisa menjadi orang yang memengaruhi dan terlibat dalam urusan yang sebenarnya bukan urusannya. Apa saja ikut campur! Ia ikut campur bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan justru membuat semakin runyam, maka Amsal mengatakan orang yang demikian tidak berpengalaman dan tidak tahu malu. Menjadi orang yang takut akan Tuhan dapat dimulai dari mengontrol sikap diri dalam berkata-kata kepada orang lain, yaitu mampu berkata tepat pada waktunya serta memberikan kata-kata yang membangun dan penuh kasih. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku untuk mampu menguasai diri dan kelemahanku, karena sering kali dalam percakapan aku cenderung menguasai semua percakapan bersama teman-temanku. Terkadang aku sadar tetapi sering juga banyak hal tidak kusadari, bahkan aku tidak merasa kalau itu menjadi batu sandungan bagi teman-teman. Terlebih lagi aku orang yang tidak mudah menerima pendapat orang lain, apalagi kalau aku ditegur, diingatkan, diberitahu kesalahanku, aku masih sering membela diri. Ampunilah aku, Tuhan. Ajarlah aku menguasai diriku dan menjaga lidah-bibirku agar tidak menjadi batu sandungan.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja, terkadang kami merasa bahwa diri kami yang paling benar dan orang lain salah. Kami begitu sulit menerima peringatan dari orang lain, apalagi sesama jemaat gereja. Ampunilah kami karena gereja terkadang menjadi wadah merumpi, merasani, menebar gosip, atau membicarakan orang lain. Ampuni kami sebagai pengurus komisi, bidang, atau departeman yang begitu mudah membicarakan orang lain, sehingga gereja menjadi batu sandungan. Ubahlah kami Tuhan supaya gereja menjadi wadah yang mendatangkan berkat, pemulihan diri, keselamatan dari mereka yang belum mengenal kasih karunia-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *