Renungan Berjalan bersama Tuhan

Perempuan dan Rumahnya

Perempuan dan Rumahnya

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri” (Amsal 14:1).

Ada orang yang memberikan ilustrasi atau gambaran suami-istri seperti seorang insinyur sipil dan arsitek. Rumah menjadi kuat dan bagus jika dikerjakan dengan baik oleh seorang insinyur sipil dan arsitek secara harmonis. Gambaran lain ada yang memberikan perumpamaan seperti raja dan ratu. Raja yang menjalankan pemerintahan di luar istana untuk menjaga agar negara aman dan tenteram, sementara ratu yang menjalankan pemerintahan di dalam kerajaannya. Raja dan ratu yang harmonis akan memberikan kesejahteraan bagi semua orang. Keserasian antara insinyur sipil dan arsitek; raja dan ratu, ternyata sangat berpengaruh dalam pembangunan sebuah rumah. Tentunya rumah yang dimaksudkan di sini bukan rumah secara fisik, sebuah gedung dan bangunan, bukan! Rumah yang diartikan Amsal adalah Rumah Kehidupan kita sehari-hari; kehidupan keluarga kita, yang kita bangun mulai dari pandangan pertama, perkenalan, dan kemudian dilanjutkan dengan pendekatan, komitmen memasuki masa pacaran yang akhirnya kesepakatan membangun sebuah kehidupan keluarga. Pembangunan disahkan melalui Pencatatan Sipil dan Peneguhan, Pemberkatan Nikah Gerejawi. Dari situ kemudian kita menata dan membangun kehidupan keluarga kita. Mulai dari berdua kemudian bertambah menjadi tiga, dengan kehadiran anak pertama, dan seterusnya. Di situlah keluarga mulai dibangun untuk menatap masa depan.

Amsal mengatakan, “Perempuan Bijak” mampu mendirikan rumahnya sedangkan “Perempuan Bodoh” akan meruntuhkan bangunan itu dengan tangannya sendiri. Mengapa perempuan dan di mana laki-lakinya? Bukankah laki-laki itu kepala keluarga? Pasti, tidak ada yang salah dalam ungkapan Amsal ini. Kepala keluarga, seorang laki-laki, adalah orang yang membangun struktur sebuah keluarga. Ia adalah orang yang meletakkan fondasi dan tiang bangunan sebagai tonggak berdirinya tembok yang kokoh di dalam keluarganya. Fondasi itu adalah prinsip hidup takut akan Tuhan, menempatkan Tuhan yang menjadi dasar, akar, dan landasan bangunan. Bukan dalam konsep, tetapi dijalani dalam realitas hidupnya.

Dengan dasar bangunan yang kokoh itu, maka kemudian dibangunlah bentuk yang indah dan serasi, warna tembok, hiasan yang menempel, tata ruang, penempatan dekorasi dan bunga, dan sebagainya. Penataan itu merupakan bidang dari seorang arsitektur, yang dapat digambarkan dengan seorang istri. Wujudnya adalah dengan menjadi pendamping yang setia dan ulet, mengingatkan dalam kebenaran Tuhan, memberikan semangat ketika putus asa, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan sebagainya. Jika rumah diatur oleh perempuan bijak, maka keluarganya akan bertumbuh dengan sehat dan harmonis. Namun, perempuan yang bodoh akan merusak keluarganya sendiri, karena memang tidak bisa mengurus dengan baik, bahkan tidak bertanggung jawab. Hanya perempuan bijak yang mampu membangun rumahnya dengan kokoh. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *