Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pergi untuk Berkarya

Pergi untuk Berkarya

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kejadian 12:1-9

Pernahkah Anda mempunyai pengalaman menjadi perantau, baik dari satu kota ke kota lain atau dari satu pulau ke pulau lain, atau dari satu negara ke negara yang lain? Yang pernah menjadi perantau pasti tebersit harapan untuk menjadi orang yang berhasil di tempat perantauan. Banyak pertimbangan untuk pergi merantau. Namun, ada juga yang nekat karena ada tekad yang kuat. Nekat dan tekad kalau digabung bisa menjadi berkat! Ketika seseorang itu nekat, maka biasanya orang itu benar-benar mau berjuang. Ia mau berjuang karena ada tekad . Ia tidak akan berhenti berjuang jika belum mendapatkan berkat dan menjadi saluran berkat. Berkat di sini bisa ditujukan untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Bagi diri sendiri jika memang tindakan nekatnya itu hanya untuk ambisi pribadi; sedangkan berkat bagi orang lain jika keinginan merantaunya itu didasari untuk keinginan memberikan diri bagi sesama. Bunda Teresa adalah orang yang merantau bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memberi diri bagi banyak orang.

Hal yang sama dikatakan Allah kepada Abraham, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kejadian 12:1-2). Allah memanggil Abraham untuk merantau dan pergi meninggalkan lingkungan hidupnya yang sudah nyaman. Mungkin agak berbeda pengertian antara “pergi” dan “merantau”. Kalau merantau bisa memiliki konotasi berjuang di tanah orang lain dengan motivasi untuk memperbaiki kehidupan. Orang dunia menyebutnya “mengubah nasib”. Sedangkan “pergi” berarti suatu perintah untuk meninggalkan tempat di mana ia berada sekarang ini, tanpa melihat keadaan ekonomi atau status yang ada. Itulah perbedaannya. Namun, keduanya juga memiliki kesamaan arti, yakni meninggalkan tempat di mana ia berada untuk memperjuangkan “hidup” bagi masa depan mereka. Jika orang “pergi” dari keadaannya yang sudah mapan, enak, dan makmur di tempat asalnya, maka hal itu mungkin akan terasa berat, apalagi jika ia pergi ke tempat yang tidak memiliki prospek yang jelas! Berbeda dengan merantau. Orang yang merantau akan mencari tempat yang memiliki prospek yang baik. Namun, keduanya tetap membutuhkan tekad untuk nekat! Abraham dalam menanggapi panggilan Allah benar-benar nekat dengan tekad yang penuh rasa percaya. Itulah IMAN. Panggilan untuk pergi adalah untuk berkarya. Sekalipun pada awalnya terasa sangat berat, ada rasa kehilangan, kekhawatiran, rasa takut akan bahaya, kecemasan kalau nanti mengalami ini dan itu, dan sebagainya. Namun, jika nekat dan tekad didasari dengan keyakinan yang benar, sikap percaya pada panggilan dan rencana Allah yang jelas dalam hidupnya, dan motivasi dan tujuan yang mulia, maka kepergian itu akan menjadi “berkat”. Allah berkata kepada Abraham, “Pergilah, engkau akan jadi berkat.” Pergi ke mana? Ke tempat yang belum diketahui oleh Abraham. Ia bersedia pergi, berjalan dan berjalan terus sampai Tuhan berkata, “Berhenti di sini. Inilah tempat yang Aku berikan kepadamu.” Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *