Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pertobatan Semu

Pertobatan Semu

Hosea 6:1-6

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Suatu hari, sekelompok orang sedang berbincang-bincang untuk membahas keberhasilan dan kegagalan hidup manusia. Di antara mereka ada seorang sahabat yang sedang mengalami kesusahan terus-menerus. Dalam percakapan itu ada seorang yang berkata, “Dalam hidup ini ada beberapa golongan orang, yaitu orang apes (apik estu), yang artinya benar-benar bagus. Ada juga orang tomat (tobat kumat) yang artinya orang ini sudah bertobat atau kelihatannya bertobat namun sesaat kemudian kumat lagi! Akhir akhir ini, saya melihat banyak orang tomat!” kata orang tersebut dengan penuh semangat. Dalam kehidupan bermasyarakat ada orang Kristen tomat sehingga menjadi batu sandungan.

Pengalaman itu ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan bangsa Israel. Bangsa yang besar dan mempunyai pengaruh luar biasa di dunia ini. Namun, apa yang ditampilkan oleh bangsa Israel kepada kita? Kehidupan manusia tomat. Itulah salah satu aspek kehidupan bangsa Israel yang berkali-kali, bahkan ribuan kali, bertobat lalu kumat lagi. Oleh karena itulah bangsa Israel menjadi bangsa yang kerap mengalami hukuman Allah, mulai dari hukuman yang ringan sampai yang berat. Setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, mereka juga tidak menjadi umat Allah yang taat pada peraturan yang sudah diberikan-Nya, baik dalam ibadah maupun dalam pekerjaan dan kesaksian hidup sehari-hari. Mereka masih sering kumat.

Sampai pada zaman Hosea, Tuhan terus mengingatkan Israel akan kekerasan hati mereka yang suka memberontak dan tidak taat. Tuhan berkata, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6). Mereka benar-benar melecehkan Tuhan karena mengira bila mereka sudah memberikan persembahan berupa korban sembelihan, semua perkara sudah beres di hadapan Allah, termasuk kehidupan mereka yang tidak bertobat. Tuhan menekankan bahwa persembahan apa pun dan berapa pun banyaknya tidak berguna jika tidak disertai dengan ketaatan kepada-Nya. Tuhan menekankan relasi yang erat antara Dia dan umat-Nya. Kedekatan itu akan membawa mereka pada pengenalan yang semakin dalam. Barulah kemudian, persembahan muncul sebagai buah dari pengenalan itu. Marilah kita terus belajar mengenal Dia. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku mengenal Engkau dengan benar sehingga hidup yang aku jalani benar-benar berlandaskan sikap takut akan Tuhan. Ajarlah aku mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar menyesal namun kemudian mengulangi kesalahan yang sama kembali.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja-Mu agar berani memberitakan pertobatan yang sejati kepada anak-anak Tuhan. Berikan juga keberanian bagi para pemimpin gereja agar berani menegur dosa, kebiasaan buruk, tingkah laku yang menjadi batu sandungan, ketidakadilan yang dilakukan oleh anak-anak Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *