Khotbah Perjanjian Baru

Pohon Ara yang Tidak Berbuah

Pohon Ara yang Tidak Berbuah

Lukas 13:1-9

oleh: Jenny Wongka †

Apabila Anda teliti dan tekun membaca Alkitab, maka bisa jadi pada saat membaca perikop ini, Anda akan langsung teringat pada sebuah nyanyian nabi Yesaya tentang kebun anggur (Yesayal 5), yaitu Ratapan mengenai umat Israel yang digambarkan seperti pohon anggur yang gagal menghasilkan buah. Ratapan inilah yang mengilhami Yesus dalam mengisahkan perumpamaan pada perikop ini.

Di sepanjang sejarah, bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang menganggap diri mereka  superior. Mereka merasa lebih unggul dari semua bangsa lainnya, selalu menganggap diri benar karena mereka adalah umat pilihan Allah. Melalui perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dan ratapan mengenai kebun anggur ini, saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan sebuah kebun anggur atau pohon ara dan membahas tiga hal yang penting untuk disimak.

Pemilik Kebun

Daerah Palestina dikenal sebagai wilayah pegunungan yang subur. Di sana sangat mudah kita jumpai berbagai pohon buah-buahan, seperti pohon zaitun, pohon delima, pohon anggur, pohon ara, dan sebagainya. Karena kondisi tanah yang baik ini, maka pohon ara pun bertumbuh dengan subur di mana-mana. Ingatkah Anda, tatkala Yesus bersama murid-murid-Nya dalam perjalanan dari Betania ke Yerusalem dan mereka menemukan sebuah pohon ara di tepi jalan? Sayangnya, pohon ara itu tidak menghasilkan buah, kemudian Yesus mengutuk pohon ara itu sehingga pohon itu menjadi kering.

Pohon ara yang disebutkan dalam perikop ini tidak sama dengan pohon ara di tepi jalan itu. Dalam perumpamaan ini, pohon ara ini secara khusus dipilih oleh pemilik kebun serta ditanam di dalam kebun anggurnya. Pemeliharaan khusus disediakan oleh pemilik kebun. Hal ini mengingatkan kita bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, mereka diangkat menjadi anak, dan mereka menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum taurat, dan ibadah dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia (Roma 9:4,5). Kita sebagai orang-orang kepunyaan Allah, Anda dan saya, mendapat perhatian khusus, pemilihan khusus dari Tuhan untuk menjadi anak-anak-Nya. Seperti apa yang dikatakan Rasul Petrus: “kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Petrus 2:9). Tetapi Allah pernah kecewa dengan gagalnya bangsa Israel sebagai pohon anggur untuk berbuah. Oleh sebab itu, janganlah kita mengira bahwa perumpamaan yang dikisahkan Yesus ini hanya ditujukan kepada orang Israel saja, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kita. Melalui perumpamaan ini, marilah kita kembali merenungkan bahwa keberadaan kita sebagai orang percaya, semata-mata karena belas kasihan Allah.

Apa yang dilakukan pemilik kebun ini atas pohon ara ini? Seperti dalam pendahuluan saya akan membandingkannya dengan Yesaya 5. Ada seseorang yang mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lubang tempat memeras anggur; lalu dinantikannya supaya kebun itu menghasilkan anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam (ayat 1 dan 2). Pemilik kebun sudah melakukan yang terbaik kebunnya. Jadi apakah kita memiliki alasan untuk menyalahkannya atas kegagalan itu? Bangsa Israel sebagai pokok anggur yang ditanam Allah telah mengecewakan hati-Nya dengan menghasilkan buah anggur yang asam, mereka gagal untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Tetapi kini, sang pemilik kebun menanam sebuah pohon ara yang kemudian dipilih untuk dirawat dengan baik di dalam kebun anggurnya. Ia berharap agar pohon ara ini dapat menghasilkan buah. Sayangnya, Alkitab mencatat bahwa pohon ara ini juga mengecewakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *