Khotbah Perjanjian Baru

Prinsip-Prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa

Prinsip‑prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa (1 Korintus 16:13-14)

oleh: Jenny Wongka†

 

Bagian terbesar dari isi 1 Korintus disajikan dalam bentuk teguran dan koreksi. 14 pasal pertama berkaitan dengan perilaku yang keliru; pasal 15 berkaitan dengan teologi yang keliru. Kendatipun pasal 13 sering dianggap sebagai sebuah tulisan yang indah mengenai kasih, tetapi sebenarnya tulisan ini bertujuan untuk mengoreksi perilaku kasih yang begitu istimewa dalam kehidupan jemaat Korintus. Walaupun demikian, teguran dan korek­si itu diberikan dengan penuh kasih. Sebagai seorang hamba Allah yang selalu dilim­pahi oleh kasih Allah, Paulus tahu bahwa ia harus menegur dalam kasih, sebagaimana Allah menegur umat-Nya, seperti ada tertulis: “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibrani 12:6).

Dalam 1 Korintus 16:13‑14, Paulus memberikan 5 perintah terakhirnya kepada jemaat Korintus. Mereka harus berjaga‑jaga, berdiri dengan teguh dalam iman, bersikap sebagai laki‑laki, tetap kuat, serta melakukan segala sesuatu di dalam kasih. Perintah‑perintah ini dalam berbagai segi, merupakan hal positif dari semua larangan yang disampaikannya pada pasal‑pasal terdahulu. Setiap perintah merupakan inti dari keseluruhan surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.

 

Perintah Pertama: Berjaga‑jagalah

Perintah Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus adalah supaya mereka berjaga-jaga. Dalam bahasa aslinya, kata berjaga-jaga adalah gregoreo, yang dapat berarti “berhati‑hati, bangun, waspada. (Seperti di dalam 1 Tesalonika 5:10; kata “tidur” menunjukkan kematian.) Istilah ini dipakai sebanyak 32 kali di dalam Perjanjian Baru, dan sering juga dipakai sebagai referensi kesadaran rohani orang Kristen, serta sebagai kebalikan dari keacuhan rohani.

Tampaknya pada saat itu, jemaat di Korintus berada dalam kondisi rohani dan moral yang tidak baik, bahkan juga keadaan jasmani mereka. Hal itu tampak manakala mereka menjadi mabuk pada Meja perjamuan Tuhan (1 Korintus 11:21). Mereka tidak berjaga‑jaga di dalam hal‑hal tertentu. Mereka memerbo­lehkan ide dan kebiasaan penyembahan berhala yang dulu pernah mereka lakukan untuk kembali memasuki kehidupan mereka serta melenyapkan kesetiaan mereka kepada Allah dan persekutuan di antara mereka. Mereka menggantikan Firman Allah dengan hikmat manusia (1:18‑2:16); mereka terpecah ke dalam beberapa golongan (1:10‑17, 3:9), melakukan tindakan asusila (5:1‑13), bertengkar dan saling menggugat (6:1‑8), berselisih mengenai berbagai pendapat mengenai perkawinan, perceraian, dan hidup melajang (7:1‑40), menganggap diri mereka ramah (10:1‑13), tidak memedulikan kepentingan orang lain (10:23‑33), salah dalam memahami dan mempergunakan karunia rohani (12‑14), dan di atas semuanya itu, mereka tidak mengasihi, serta melaku­kan segala sesuatunya tanpa kasih (13:1‑6).

Di dalam Perjanjian Baru, terdapat paling sedikit empat hal penting yang membuat kita harus berjaga‑jaga. Yang pertama adalah berjaga‑jaga terhadap si Jahat. “Sadarlah dan berjaga‑jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum‑aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawan­lah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1 Petrus 5:8,9). Kita harus dapat memahami strategi Setan yang, walaupun secara halus dan perlahan tetapi pasti, pada dasarnya menyerang kita dalam tiga hal berikut: “keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup” (1 Yohanes 2:16).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *