Khotbah Perjanjian Baru

Pulang

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Yohanes 14:1-3

Shalom. Firman Tuhan yang akan kita terima pada malam hari ini saya beri tema Pulang. Adalah suatu fakta bahwa masing-masing kita pada saatnya nanti akan dipanggil pulang ke rumah Bapa. Mari kita dasari renungan malam hari ini dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Injil Yohanes 14:1-3.

Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Sebelum kita merenungkan lebih jauh firman Tuhan ini, saya ingin bertanya, apakah ada di antara Saudara-saudara yang masih memiliki orang tua entah ayah atau ibu yang tinggal di kampung tempat Saudara dilahirkan? (beberapa jemaat menjawab ‘ada’). Ada yang sudah tidak punya? (Jemaat menjawab ‘ada’). Pertanyaan kedua, bagi Saudara-saudara yang masih memiliki orang tua di kampung halaman, apakah Saudara masih punya rasa rindu untuk pulang kampung? (Jemaat menjawab ‘masih’). Pertanyaan ketiga, apakah ada perbedaan derajat kerinduan antara ketika kita masih punya orang tua di kampung dengan ketika kita sudah tidak punya orang tua di kampung? Saya termasuk orang yang sudah tidak punya orang tua di kampung. (Jemaat menjawab ‘berbeda’). Ya, berbeda. Ketika kita sudah tidak punya orang tua di kampung, kerinduan kita tidak sebesar ketika kita masih punya orang tua di sana. Ketika orang tua kita masih hidup, rasa rindu kita untuk pulang sangat besar. Kita ingin segera ketemu dengan orang tua kita.

Yohanes dalam Injil yang tadi kita baca sesungguhnya ingin mengungkapkan hal yang sama. Tuhan Yesus mengungkapkan kerinduan manusia untuk pulang atau kembali ke rumah. Apabila kerinduan kita kembali ke kampung halaman ditentukan oleh seberapa besar kerinduan kita kepada orangtua; kerinduan kita untuk kembali ke surga juga ditentukan oleh seberapa besar kerinduan kita kepada Bapa di surga. Mengapa demikian? Karena manusia pernah tinggal di sebuah rumah dan mereka sangat kerasan tinggal di rumah itu karena mereka bersama-sama dengan Bapa. Mereka tinggal serumah dengan Bapa. Mereka bisa bercakap-cakap dengan Bapa. Mereka bergaul akrab dengan Bapa.

Pada awalnya itu adalah kenyataan yang sangat indah. Namun, dalam perjalanannya, manusia memberontak kepada Bapanya sehingga manusia diusir dari rumah. Manusia kehilangan rumah yang pertama padahal itulah rumah kita yang sesungguhnya. Ketika kita kehilangan rumah pertama, kita hidup sebagai gelandangan, hidup tanpa rumah. Istilah ini mungkin sangat menyakitkan, tetapi itu adalah kenyataan yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *