Khotbah Perjanjian Baru

Quit? No!

Oleh: Pdt. David Kosasih

12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. 12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Ibrani 12:1-3

Saya membaca sebuah kisah perjuangan seorang wanita luar biasa. Pada tahun 1952, Florence Chadwick berusaha berenang hampir sejauh 42 km dari pantai California ke Pulau Catalina. Setelah berenang selama 15 jam, kabut tebal mulai menghalangi pandangannya. Ia pun kehilangan arah dan menyerah. Ia sangat menyesal setelah menyadari bahwa ia berhenti ketika tujuannya hanya tinggal 1,5 km lagi.

Dua bulan kemudian, Chadwick kembali mencoba berenang ke Pulau Catalina. Kabut tebal kembali menghalanginya, tetapi kali ini, ia berhasil mencapai tujuannya. Prestasi itu menjadikannya sebagai wanita pertama yang berhasil berenang melintasi Kanal Catalina. Chadwick berkata bahwa ia terus membayangkan garis pantai yang akan ditujunya, sekalipun ia tak dapat melihatnya. Semangat dan keinginannya untuk tidak menyerahlah yang membuatnya bertahan dan terus maju menyelesaikan sampai finish.

Saya mau mengenalkan sebuah kata yang belakangan ini terus menempel di ingatan saya. Kata itu dalam bahasa Inggris, yakni GRIT. Dalam Merriam Webster Dictionary, ada beberapa arti kata Grit. Salah satu artinya adalah firmness of mind or spirit: unyielding courage in the face of hardship or danger (keteguhan pikiran dan hati, semangat pantang menyerah menghadapi kesukaran atau bahaya).

Istilah ini dipopulerkan oleh seorang profesor dan psikolog dari Pensyilvania University, Angela Duckworth. Dalam mengenal istilah ini pun ia sendiri membutuhkan proses yang tidak sebentar, dimulai dari keputusan besarnya untuk hengkang dari perusahan yang dirasa terlalu banyak menuntut. Dan memulai sebuah pekerjaan baru yang nyatanya, bahkan lebih banyak dan penuh tuntutan yakni mengajar.

Dari pekerjaan barunya ini Angela Duckworth menyadari satu hal, bahwa IQ yang tinggi nyatanya bukan satu-satunya tolok ukur untuk membedakan antara kecerdasan seorang anak. Karena IQ yang rendah tak selamanya mendapatkan nilai yang buruk dan juga sebaliknya. Hal ini membuktikan bahwa seorang anak yang berusaha keras belajar ternyata juga mampu untuk mencapai sesuatu yang luar biasa. Ternyata sebuah daya juang dan semangat pantang menyerah juga adalah hal yang dibutuhkan agar seseorang dapat mencapai tujuan hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *