Renungan Berjalan bersama Tuhan

Rahasia Tetap Rahasia

Rahasia Tetap Rahasia

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19)

Ketika kita berada dalam komunitas orang banyak, baik yang kita kenal dengan akrab maupun dalam komunitas yang tidak terlalu akrab, dapat dipastikan kegiatan merumpi atau merasani orang lain atau membicarakan siapa saja yang dapat menjadi bahan pembicaraan akan terjadi. Dalam pembicaraan yang tak berujung pangkal, orang biasa saling mengumpat, bahkan saling membuka rahasia. Masing-masing orang biasa berkata, “Tolong hal ini jangan diberitahukan kepada orang lain ya karena hanya kamu saja yang tahu.” Padahal kata kamu di sini adalah orang banyak yang sama-sama sedang merumpi. Rahasia sudah bukan rahasia lagi walaupun ada ungkapan “tolong jangan diberitahukan kepada yang lain” karena semua orang bercerita dengan kalimat penutup seperti itu.

Ada orang yang memang senang sekali berkomunikasi. Setiap kali bertemu dengan siapa saja, ia bisa langsung akrab dan bersahabat. Namun, ada juga orang yang sama sekali tidak suka berkomunikasi, bungkam seribu bahasa, walaupun sudah duduk bersebelahan. Memang tidak bisa dipungkiri, faktor kepribadian berperan sangat penting. Misalnya orang plegmatic dan melancholic pasti lebih diam dibandingkan dengan orang sanguin dan choleric yang lebih agresif. Bagi Amsal, apa pun kepribadian seseorang, ia bisa melakukan apa saja dengan berkomunikasi. Baik itu orang yang suka bicara ataupun orang yang tidak suka bicara, atau yang bicaranya sedikit, sama-sama bisa menjadi orang yang suka “mengumpat”, bicara “omong kosong, membual, bicara “ngalor ngidul”. Memang orang yang demikian pada umumnya adalah orang periang, yang suka berteman, dan tidak bisa tinggal diam. Namun, orang pendiam bisa juga mempunyai kebiasaan membual. Walaupun kelihatan diam, bagitu ia bicara, ternyata pembicaraannya tidak berujung pangkal.

Amsal menyebutnya sebagai  orang yang “bocor mulut”. Artinya, kata-kata yang keluar begitu banyak dan tidak terkontrol. Sama seperti sebuah bak air atau tandon air yang diletakkan di atas rumah. Ketika ada retakan atau lubang, air dalam tandon mengalir dengan derasnya, tidak bisa dihentikan sampai seluruh air di dalam tandon itu habis. Contoh lain adalah aliran air dari pipa yang terhubung ke sumber air yang mengalir ke seluruh rumah penduduk. Tentunya air dalam pipa itu mempunyai tekanan yang sangat besar agar bisa mengalir ke rumah-rumah penduduk. Bayangkan jika pipa air itu bocor, pasti air keluar dengan derasnya dan tidak bisa dihentikan. Seperti itulah orang yang mengumpat, mengatakan omong kosong, mencaci maki orang lain. Semua perkataanya tidak bisa dihentikan, seperti bocornya pipa air atau tandon air tadi. Maka dari itu, Amsal mengingatkan agar jangan bergaul dengan mereka. Mengapa? Karena semuanya tidak ada gunanya, sia-sia, hanya mendatangkan konflik yang baru atau menimbulkan rasa sakit hati. Berkata-katalah dengan baik dan benar, bukan dengan umpatan atau merumpi yang membuka rahasia orang atau kelompok. Kata-kata yang benar akan saling menguatkan dan membangun komunitas yang sehat dan yang diberkati oleh Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *