Khotbah Perjanjian Lama

Rancangan Allah bagi Keluarga

“Saya ingin sekali bunuh orangtua saya, Pak. Dari kecil saya dianiaya dan diperlakukan kasar. Tapi … saya tahu firman Tuhan tidak mengajarkan saya begitu” Mudahkah bersikap demikian?

Kita harus menyadari bahwa emosi dan pikiran kita tidak selalu benar. Oleh  karena itu, lembutkanlah hati untuk menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Menundukkan diri di bawah kehendak Tuhan itu sulit, bukan? Hali itu karena kita harus mengalahkan ego kita. Inilah musuh kita: ego dan kesombongan kita. Inilah musuh keluarga kita: ego dan kesombongan anggota-anggotanya. Inilah juga yang telah menjungkalkan keluarga pertama di dunia—Adam dan Hawa—akibat bujukan Iblis, “Kamu akan menjadi seperti Allah.” Akan tetapi, ketika kita gagal mengalahkan kesombongan kita, kita tidak dapat mengemban amanat Allah di dalam dunia ini. Ketika anggota keluarga tidak bersama-sama menundukkan diri pada tuntunan Tuhan, maka anggota keluarga akan saling mengalahkan dan menundukkan.

Suatu kali, dua orang suami sedang berkumpul. Mereka asyik membicarakan istri mereka masing-masing. Suami yang pertama, katakanlah Pak Joni, berkata kepada Pak Badu, “Eh … Badu, tahu tidak semalam aku berhasil membuat istriku menangis di pelukanku.” “Wah hebat kamu, Jon. Gitu donk suami yang ideal: istri harus tunduk pada suami.” “Kamu sendiri gimana, Badu? Bagaimana dengan istrimu?” tanya Pak Joni. “Oh … kalau aku lain lagi, Jon. Dua malam yang lalu, aku berhasil membuat istriku berlutut di hadapanku!!” “Haaaa? Berlutut? Hebat benar kamu, Badu!” seru Pak Joni. “Iya, dong … Ini baru Badu namanya …,” sambut Pak Badu bangga. “Emangnya kamu apakan istrimu sampai ia berlutut di depanmu?” tanya Pak Joni penasaran. “Hm … malam itu istriku berlutut di hadapanku sambil berkata kepadaku, ‘Kalau kamu suami yang berani, ayo keluar dari kolong ranjang!’”

Perhatikanlah masalah-masalah di dalam keluarga kita. Dari manakah sumber masalah itu? Dari ketidaksediaan kita untuk menaati tuntunan firman Tuhan, bukan? Dari ego dan kesombongan yang kita biarkan merajalela, bukan? Ego dan kesombongan orangtua yang selalu merasa benar! Tidak pernah meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat dan membuat kepahitan di hati anak-anak. Pemberontakan dan ketidakpatuhan anak-anak telah menyebabkan luka di hati orangtua. Dari manakah awal mula terjadinya perselingkuhan? Bukan dari orang ke-3. Lalu? Dimulai dari memikirkan diri sendiri, bukan? Yang penting kebutuhan saya terpenuhi, persetan dengan istri dan anak-anak, dan juga dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, apabila kita menginginkan keluarga yang kokoh dan melayani Allah, kita harus kembali pada hal yang mendasar ini: menghadirkan Tuhan di tengah keluarga yang dibuktikan dengan adanya kesediaan untuk menaati-Nya bagaimanapun keadaan dan perasaan kita.

Bersediakah Anda?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *