Khotbah Perjanjian Lama

Rancangan Allah bagi Keluarga

 

Mendengar Kehendak Allah bagi Keluarga

Apa bukti bahwa sebuah keluarga telah mendengarkan suara dan tuntunan Allah? Ketika keluarga mendengarkan suara dan tuntunan Allah, maka di dalam keluarga itu akan ada rasa takut akan Tuhan. Konkretnya, apa pun yang dialami dan dirasakan oleh anggota keluarga, mereka akan tetap tunduk pada kehendak Allah. Pikiran dan perbuatan tetap tertuju pada kehendak-Nya, bukan pada emosi atau ego pribadi.

“Pak, kalau tidak ingat Tuhan, saya sudah menceraikan istri saya!,” kata seorang pria. “Saya tidak sanggup lagi dengan perilakunya yang suka pinjam sana-sini. Saya malu. Tapi saya takut sama Tuhan.” Kondisi ini tidak mudah, bukan?

“Saya sudah tidak tahan lagi Pak dengan perilaku suami saya. Kasar dan suka main perempuan. Saya sudah lama ingin lari meninggalkan rumah. Tapi apa Tuhan akan berkenan dengan perbuatan saya?” Tidak gampang, bukan?

“Saya ingin sekali bunuh orangtua saya, Pak. Dari kecil saya dianiaya dan diperlakukan kasar. Tapi … saya tahu firman Tuhan tidak mengajarkan saya begitu” Mudahkah bersikap demikian?

Kita harus menyadari bahwa emosi dan pikiran kita tidak selalu benar. Oleh  karena itu, lembutkanlah hati untuk menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Menundukkan diri di bawah kehendak Tuhan itu sulit, bukan? Hali itu karena kita harus mengalahkan ego kita. Inilah musuh kita: ego dan kesombongan kita. Inilah musuh keluarga kita: ego dan kesombongan anggota-anggotanya. Inilah juga yang telah menjungkalkan keluarga pertama di dunia—Adam dan Hawa—akibat bujukan Iblis, “Kamu akan menjadi seperti Allah.” Akan tetapi, ketika kita gagal mengalahkan kesombongan kita, kita tidak dapat mengemban amanat Allah di dalam dunia ini. Ketika anggota keluarga tidak bersama-sama menundukkan diri pada tuntunan Tuhan, maka anggota keluarga akan saling mengalahkan dan menundukkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *