Renungan Berjalan bersama Tuhan

Ratap Tangis di Rama

Ratap Tangis di Rama

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 2:16-18

Apa yang terjadi ketika kematian tiba-tiba menghampiri keluarga kita? Tentu jeritan dan tangisan yang amat menyedihkan, bukan? Tangisan sedih dan bahkan jeritan histeris itu terjadi karena rasa kehilangan orang yang dikasihi. Hal ini disebabkan karena kita merasa memiliki: “Saya yang punya, atau itu kepunyaan saya!” Pada saat kepunyaan kita itu diambil dari tangan kita atau dari kehidupan kita, maka kita merasa sedih. Matius mencatat suatu peristiwa yang sangat menyedihkan di Rama, yaitu sebuah kota kecil yang terletak sangat dekat dengan Betlehem. Di kota inilah Rahel melahirkan Benyamin, kemudian meninggal dan dikuburkan di sana. Elkana, ayah Samuel, juga berasal dari kota ini dan Samuel pun dilahirkan di sana, bahkan mati dan dikuburkan di sana. Yusuf Arimatea, seorang murid Tuhan Yesus yang memberikan kuburan bagi Tuhan Yesus, juga berasal dari Rama. Kota itulah yang dipakai oleh Allah menjadi simbol yang indah, untuk meratapi kedukaan yang mendalam. Beautifully expressed the sorrows of the mothers in Bethlehem.

Nabi Yeremia juga memberikan nubuat bagi orang-orang di Rama bahwa Tuhan akan mengubah tangisan mereka menjadi sukacita yang besar. Apa yang dikatakan Yeremia 31:15 dikutip oleh Matius, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Matius 2:18). Rama, yang berimpitan dekat dengan Betlehem, memiliki latar belakang sejarah yang besar, khususnya karena Yakub pernah mendirikan tugu bagi Israel. Kota itu juga menjadi bagian dari kesadisan Herodes. Raja itu marah karena ada nubuat bahwa akan lahir seorang Raja di atas segala raja, yang akan memimpin bangsa Israel, bahkan seluruh umat manusia di dunia. Tentunya nubuat itu sangat mengusik hatinya yang sedang berkuasa pada waktu itu. Ia raja yang besar dan sukses. Tak mungkin dan tak ada orang yang dapat menggeser kedudukannya. Oleh karena itu, ia memerintahkan agar semua bayi laki-laki yang berumur di bawah 2 tahun di kota Betlehem dan sekitarnya harus dibunuh, termasuk Rama.

Sejarah membuktikan bahwa kebesaran dan kekuasaan yang dikuasai dosa akan melahirkan dosa yang lebih besar dan lebih jahat! Herodes adalah bukti raja yang berkuasa dan dikuasai oleh dosa sehingga kekejaman mendasari pemerintahannya. Namun, Allah tidak tinggal diam. Dia mendengar tangisan Rahel yang mewakili ibu-ibu yang berduka, dan akan mengubahnya menjadi sukacita, seperti nubuat Yeremia. “Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka” (Yeremia 31:13). Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *