Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Pra Paska & Paska

Respons terhadap Kematian Kristus

Respons terhadap Kematian Kristus

Matius 27:54-56

oleh: Jenny Wongka †

Dalam tiga ayat singkat yang di atas segera terlihat adanya dua respons orang terhadap kematian Kristus. Kedua respons tersebut jelas sangat positif. Yang pertama dari kepala pasukan dan para prajurit yang berada di bawah salib Kristus, dan yang kedua dari para wanita yang melihat dari jauh. Sesungguhnya, bila membaca dengan teliti Injil Sinoptik dan Injil Yohanes, kita bisa menemukan masih ada dua respons lainnya, misalnya apa yang dicatat oleh Lukas tentang respons orang-orang yang tidak percaya, dan yang terakhir ialah respons dari para murid yang ketakutan yang tersirat dalam sepanjang catatan empat Injil.

Marilah kita merenungkan dua respons pertama yang bagi saya merupakan representasi dari respons-respons manusia dewasa ini terhadap apa yang telah dibuat Allah dalam sepanjang sejarah umat manusia, dan dua respons tersebut merupakan aplikasi yang praktis, bahkan untuk generasi kita kini.

 

Respons Pertama: Iman yang Menyelamatkan (Saving Faith)—27:54

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: ‘Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!’”

Kepala pasukan yang dimaksud di sini dalam terjemahan Inggris adalah centurion, yang tak lain merupakan kepala pasukan yang membawahi seratus orang prajurit. Pejabat ini diberi tanggung jawab untuk menangani tiga eksekusi penyaliban. Hampir bisa dipastikan bahwa ia dan para prajurit yang menjaga Yesus ini adalah mereka yang juga sebelumnya berada di Praetorium tatkala para pemimpin Yahudi membawa Yesus ke sana. Tanpa diragukan pula, mereka mendengar gugatan orang atas Yesus, dan dengan jelas mendengar ketika berkali-kali Pilatus menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah.

Para prajurit ini kemungkinan besar ikut serta mengolok-olok Yesus, menganyam mahkota duri, dan mengenakan mahkota itu dengan paksa di atas kepala-Nya. Di atas Bukit Golgota, mereka yang memaku Dia pada salib, membuang undi untuk memperebutkan jubah-Nya.

Kedengkian para pemimpin Yahudi dan orang banyak itu cukup jelas bagi para prajurit. Teriakan kompak dan serentak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” dari orang banyak itu masih sangat segar di dalam ingatan mereka dan mungkin terngiang terus di telinga mereka. Namun, kini tugas pelaksanan eksekusi salib atas diri Kristus sudah berlangsung selama kira-kira tiga jam. Beberapa hal terjadi dan mengubah total sikap para prajurit ini, mereka “menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi”. Pengalaman itu menakutkan sekali. Kata fobew dipakai untuk melukiskan ketakutan mereka yang luar biasa, suatu kepanikan yang menyebabkan kegelisahan hebat. Saya meneliti  bahwa kata yang sama ini juga dipakai Matius untuk melukiskan respons para murid tatkala menyaksikan Yesus berjalan di atas air, mereka sangat takut karena mengira Dia adalah hantu (14:26). Kata ini juga melukiskan ketakutan Petrus, Yohanes, dan Yakobus ketika bersama Yesus pada peristiwa transfigurasi, mereka mendengar suara Allah Bapa yang memberikan konfirmasi bahwa Yesus adalah Anak Allah dan perintah kepada mereka untuk taat kepada-Nya, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (17:5-6).

Konteks ayat dan keadaan yang kita renungkan ini jelas menunjukkan bahwa kepala pasukan dan para prajurit menjadi sangat takut, bukan hanya karena terjadinya fenomena alam yang dahsyat ini, tetapi bagi saya, ini juga karena mereka merasakan adanya kuasa besar di balik itu. Katakutan emosional itu kemudian memunculkan pengakuan, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!” (“Truly, this was the Son of God!”).

Perhatikan, kata “was” dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan tepat sekali, sebab dalam bahasa aslinya kata h)n, (Imperfect Indicative Active of ei)mi) berkonotasi: Dia dulu adalah Anak Allah dan hingga kini Dia adalah Anak Allah.

Pengakuan ini oleh Markus dicatat sebagai ucapan kepala pasukan itu sendiri, namun dengan lebih jelas Matius mengatakan bahwa itu adalah ucapan kepala pasukan dan para prajuritnya. Mereka semua tiba-tiba sadar bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Anak Allah, dan itu bukan suatu julukan yang bernada olok-olok. Rangkaian pelaksanaan eksekusi salib atas diri Yesus, ekspresi serta sikap Yesus yang tidak mengumpat, tidak geram terhadap perlakuan kasar mereka itu telah menghancurluluhkan hati mereka yang keras.

Ketakutan para prajurit telah membawa mereka pada kesadaran akan dosa-dosa mereka. Rasa takut dan hormat muncul tatkala mereka diperhadapkan dengan kukudusan dan kebenaran Kristus. Bagi saya, pengakuan para prajurit atas keilahian Kristus menghantar mereka pada keselamatan spiritual mereka. Lukas mencatat lebih jauh bahwa mereka tidak hanya mengakui Kristus sebagai Anak Allah, tetapi juga mulai memuliakan Allah (Lukas 23:47). Pengakuan yang solid dan mantap terlihat jelas dari kata “sungguh” yang mereka umumkan tanpa ragu bahwa “orang ini adalah orang benar!”

Saya setuju dengan apa yang dikatakan R.C.H. Lenski ketika mengomentari pengakuan para prajurit ini, bahwa bagi mereka ungkapan “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!” telah menjadi suatu pengakuan iman terhadap Kristus, yang dilakukan di hadapan salib Kristus. Juruselamat yang telah meninggal itu. Bagi saya, jelaslah bahwa pengakuan ini keluar dari mulut mereka atas iluminasi dari Allah sendiri. Masih ingatkah kita pada Petrus, yang kendati sudah menyaksikan sendiri banyak mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus, pengakuannya atas diri Yesus sebagai “Kristus, Anak Allah yang hidup” juga bukan melalui pengertian atau hikmat manusia, melainkan Bapa yang di surga yang telah menyatakan hal itu kepadanya (Matius 16:16-17). Paulus juga menyebutkan hal yang senada di dalam 1 Korintus 12:3 bahwa “tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus”.

Hanya Roh Allah yang mampu menginspirasikan pengakuan kepala pasukan dan para prajurit ini, dan hanya Roh Allah pula yang menggerakkan hati mereka untuk memuliakan Allah. Iman para prajurit ini sangat penting maknanya, teristimewa pada pembentukan jemaat perdana saat itu. Orang-orang datang beriman kepada-Nya bukan hanya saat Dia menyampaikan khotbah, menyembuhkan orang sakit, atau membangkitkan orang mati, melainkan juga kini di bawah salib-Nya, saat Dia terangkat tinggi, orang-orang ini atau para penyiksa-Nya juga datang beriman kepada-Nya.

 

Respons Kedua: Loyalitas yang Simpatik (Sympathetic loyal­­­­­­­­­­­ity)— 27:55-56

“Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilia untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.”

Reaksi dari kelompok kedua yang disebutkan Matius dalam kedua ayat ini sangatlah indah. Berbeda dengan kepala pasukan dan para prajuritnya yang semula tidak percaya menjadi beriman, para wanita yang berada di sana itu adalah orang-orang percaya. Respons mereka atas kematian Kristus di salib dapat dilukiskan sebagai loyalitas yang simpatik.

Dari catatan Yohanes kita bisa melihat bahwa sejumlah wanita ini sudah berjam-jam lamanya, hampir sejak awal pelaksanaan eksekusi tersebut, berada di sekitar salib Kristus (Yohanes 19:25-27). Namun, sangat masuk akal pula bila mereka tidak tega berada terlalu dekat di salib itu sambil menyaksikan penderitaan yang dialami Tuhan. Alkitab mencatat bahwa mereka melihat dari jauh. Sikap ini bukan karena mereka takut kepada para prajuirt Romawi, atau malu untuk mengidentifikasi diri sebagai para pengikut Yesus. Bagi saya, mereka melihat dari jauh sebab hati mereka hancur menyaksikan Tuhan yang sangat mereka kasihi itu, yang lemah lembut dan penuh kasih itu harus menanggung penderitaan seberat itu. Kepedihan hati mereka begitu dalam dan pengharapan mereka tampaknya sirna, tetapi kasih besar yang telah menutupi segala ketakutan itulah yang mempertahankan mereka untuk tetap berada di sekitar lokasi penyaliban itu.

Loyalitas yang simpatik ini telah diwujudnyatakan oleh para wanita ini lebih dari yang dapat diekspresikan oleh para pengikut lelaki (dalam hal ini para murid-Nya). Para wanita yang setia mengiring Tuhan ini menunjukkan loyalitas walaupun diperhadapkan pada olokan, cemooh orang lain, bahkan bahaya yang mengancam nyawa mereka dari para pemimpin Yahudi. Kecuali Yohanes, para murid yang lain tercekam dalam ketakutan dan sudah melarikan diri entah ke mana. Bahkan Petrus yang menurut catatan Matius 26:58 pernah cukup berani mengikuti dari jauh sampai ke halaman Imam Besar Kayafas, masuk ke halaman, lalu duduk di antara para pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu, kini entah pergi ke mana.

Seorang ekspositor Alkitab ternama, G. Campbell Morgan memberikan penggambaran yang indah dalam komentarnya, “Kasih para wanita itu tidak mampu dibuyarkan walaupun sebenarnya mereka dalam kondisi kecewa, hopeless, dan disappointed. Terang pengharapan seolah-olah sirna, dan keadaan sekeliling mereka bagaikan awan gelap yang mencekam, namun kasih mereka kepada Tuhan telah memampukan mereka seolah-olah melihat fajar terang yang segera akan merekah.”

Kita tidak tahu persis jumlah para wanita yang berada di bawah kaki salib Kristus saat kematian-Nya itu, namun perhatikan apa yang dicatat Matius: Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia.

Para wanita yang setia ini telah menempuh perjalanan yang panjang untuk mengiring, bahkan melayani Yesus. Menurut catatan Lukas, di antara mereka terdapat “Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Lukas 8:2-3). Di sepanjang kehidupan pelayanan Yesus di bumi, para wanita ini dengan tulus hati dan penuh kasih melayani Yesus dan kedua belas murid-Nya. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang, talenta, bahkan hospitalitas. Tidak dapat disangkal, betapa sering mereka pun harus mempersiapkan makanan bagi kebutuhan tim penginjilan Kristus.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pelayanan para wanita yang saleh selalu menjadi hal yang sangat penting dalam suatu jemaat. Bahkan dewasa ini peran para wanita yang melayani tanpa pamrih di tengah jemaat masih bisa ditemukan. Para wanita di sekitar salib Kristus berfungsi terutama sebagai saksi mata yang dapat diandalkan. Wanita pula yang menjadi orang pertama yang mengetahui kebangkitan Kristus. Mereka juga sangat berperan dalam jemaat perdana. Saya percaya, ketika keluar untuk memberitakan Injil Tuhan, para rasul perdana tidak akan lupa menyisipkan kesaksian tentang para wanita yang saleh, setia serta berani mengiring Tuhan Yesus sampai ke kaki salib Kristus. Di sana hanya para wanita itulah yang setia mendampingi Kristus di saat yang paling menderita menjelang kematian-Nya, sementara para lelaki yang dipilih secara khusus dan mendapat latihan khusus melalui pelayanan bersama dengan-Nya itu sudah melarikan diri, bahkan menyembunyikan diri ke beberapa keluarga di kota Yerusalem.

Dalam Injil Matius dikatakan bahwa melalui pena Matius, Roh Kudus mengidentifikasi sejumlah wanita itu dengan menyebut nama mereka. Yang pertama adalah Maria Magdalena. Lukas memberikan keterangan tambahan tentang wanita itu, yakni bahwa ia yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat (Lukas 8:2). Magdalena bukanlah nama keluarga, melainkan menunjuk pada sebuah kota kecil Magdala, yang berada di tepi pantai sebelah barat Laut Galilea, tepat berada di sebelah selatan kota Kapernaum. Menurut sejumlah penafsir, ia disebut sebagai Maria Magdalena karena ia masih lajang (single/unmarried), dan panggilan nama serupa ini sangat lazim pada zaman itu.

Wanita kedua yang disebutkan ialah Maria, ibu Yakobus dan Yusuf. Yakobus adalah salah seorang rasul yang biasanya disebut juga Yakobus Muda (Markus 15:40) atau Yakobus anak Alfeus (Matius 10:3; Kisah Para Rasul 1:13) untuk membedakannya dari Yakobus yang lain. Saudara Yohanes ini tergabung dalam kelompok elit (inner circle of the Twelve). Yohanes di dalam Injilnya menyebut nama wanita ini sebagai “isteri Klopas” (Yohanes 19:25), mungkin suatu nama yang lain untuk Alfeus.

Wanita yang ketiga dikenal dengan nama Salome, seperti yang dicatat oleh Markus (Markus 15:40), namun dengan sederhana Matius menyebutnya: ibu anak-anak Zebedeus. Dengan kata lain, ia adalah istri dari Bapak Zebedeus, yang memiliki anak-anak bernama Yakobus dan Yohanes (Matius 4:21), yang oleh Tuhan Yesus, diberi julukan “anak-anak guruh” (Markus 3:17). Dari Injil Yohanes kita tahu bahwa Maria, ibu Yesus juga berada di sana (Yohanes 19:26).

Kita dapat melihat kesetiaan para wanita ini dalam mengiring Kristus sampai pada detik-detik terakhir kematian-Nya di atas kayu salib. Kaum lelaki atau tepatnya para murid [sepuluh murid] selain Yohanes, Yudas Iskariot yang telah mati bunuh diri lebih dulu, lari menyelamatkan diri masing-masing. Selama masa yang genting itu, masa ketika Yesus sebagai manusia 100% sangat membutuhkan keberadaan mereka untuk menemani-Nya, mereka justru telah menyalahi prinsip dasar pemuridan yang sejati, yakni murid harus setia kepada gurunya. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,” demikian Yesus bersabda, “ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:38). Pada saat itu, para murid bukan hanya tidak sanggup memikul salib mereka sendiri, mereka bahkan juga tidak sanggup untuk berdiri teguh saat Yesus sedang menanggung salib-Nya.

Kesimpulan

Pada suatu hari, beberapa tahun silam, seorang polisi sedang berpatroli dengan mengendarai sepeda motor patroli di jalan-jalan kota Chicago. Ia mendapati dan segera mengamati seorang lelaki mencurigakan yang sedang berdiri di depan sebuah gedung tua kecil dengan menanggalkan topi sambil menundukkan kepala dengan mata terpejam dan mulut berkomat-kamit.

Oh, mungkin lelaki itu sedang sakit, pusing, atau mungkin sedang mabuk minuman keras.” demikian pikir polisi itu dalam hatinya. Ia turun dari sepeda motor patrolinya, berjalan menghampiri lelaki itu dengan penuh kewaspadaan dan kecurigaan. Dengan kuat ia menepuk pundak lelaki itu sambil berkata, “Apa yang terjadi, Pak, apakah Anda sakit?”

Lelaki itu membuka matanya dan tersenyum manis, “Tidak, Pak Polisi. Nama saya Bill Sunday. Saya bertobat tepat di sini, di tempat saya berdiri ini, dalam suatu pekan misi yang diadakan di gedung ini. Sejak malam itu, setiap kali saya melakukan perjalanan ke mana pun yang melewati tempat ini, saya tidak pernah satu kali pun absen untuk berdiri sejenak di tempat ini, menanggalkan topi saya sambil berdoa dan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas pengampunan dan keselamatan yang sudah mengubah total hidup saya!”

Lelaki ini telah memberikan respons positif setelah mendengar Injil dalam pelayanan misi. Dua respons terhadap kematian Kristus telah dipaparkan dengan jelas di atas. Kini, marilah kita berdiam sejenak untuk introspeksi diri, bagaimana respons saya dan respons Anda terhadap karya besar yang sudah Tuhan Yesus lakukan di atas kayu salib bagi kita? Apakah hal itu mendorong ketidakpercayaan kita menuju iman? Tidak mustahil bahwa di antara kita masih ada yang ragu untuk mempercayakan diri kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita. Kalau memang dugaan saya ini benar, mengapa Anda tidak mengambil kesempatan ini untuk merespons Dia. Apakah hal itu semakin mendorong kita untuk mewujudnyatakan loyalitas kita di dalam pelayanan yang Tuhan sudah percayakan kepada kita masing-masing. Kuasa kemenangan kebangkitan Kristus sudah menjadi bagian kita. Persoalannya, apakah kita memakai kuasa ini untuk setia mengiring dan melayani Dia!

A  M  I  N.

Leave a Reply

Your email address will not be published.