Renungan Berjalan bersama Tuhan

Roti dan Anggur

Roti dan Anggur

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 26:17-25

Perjamuan Kudus mana yang sebenarnya dilakukan dalam situasi, kondisi, dan keadaan yang sangat menegangkan? Perjamuan Kudus yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bersama kedua belas murid-Nya pada malam menjelang Ia disalibkan tentu merupakan pengalaman pertama yang takkan pernah terlupakan. Mengapa demikian? Karena Perjamuan Kudus itu diadakan dalam suasana yang penuh kasih, persahabatan dan keakraban. Namun, suasana itu berubah total ketika Tuhan Yesus dengan terbuka berkata, “‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku’” (Matius 26:21). Perkataan itu membuat suasana menjadi tegang. Para murid saling memandang dan bertanya siapakah orang itu? Bukan itu saja. Ketika Perjamuan Kudus mulai berjalan, Tuhan Yesus mengambil roti dan cawan anggur, dan menyatakan bahwa kedua benda itu melambangkan tubuh dan darah Tuhan Yesus yang akan terpecah-pecah dan tercurah.

Suasana pun semakin tegang. Para murid tidak pernah membayangkan perjamuan akan berlangsung sedemikian rupa sehingga mereka bukan hanya terkejut, melainkan juga sangat takut. Mereka tidak bisa merasa nyaman ketika makan roti dan minum anggur saat itu. Berbeda dengan orang makan roti dan minum anggur dalam suatu pesta atau persekutuan persahabatan, yang penuh dengan keakraban dan canda ria. Suasana tegang dan menakutkan membuat mereka berkecil hati dan bertanya-tanya, “Sebenarnya apa yang akan terjadi?”

 

Itulah yang terjadi pada waktu para murid makan roti dan minum anggur bersama Tuhan Yesus. Sekarang bagaimana dengan kita ketika makan roti dan minum anggur Perjamuan Kudus di gereja? Apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita sangat penting bagi kita sekalian yang ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Kalau kita perhatikan, dalam formulir Perjamuan Kudus ada pernyataan: “Marilah kita mengarahkan hati dan pikiran kita bukan pada roti dan anggur yang kelihatan ini, melainkan arahkanlah hati dan pikiranmu pada roti hidup dan air hidup, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.” Ini berarti ketika kita memegang roti dan anggur, kita diajak untuk melihat apa yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi kita. Tuhan telah menjadi manusia, rela menderita dan mati di atas kayu salib, untuk menyelamatkan kita dari hidup yang binasa. Dengan pemahaman itu, kita makan roti dan minum anggur dengan hati dan pikiran yang penuh syukur dan terima kasih. Roti dan anggur itu melambangkan penderitaan dan kematian Tuhan Yesus, yang menjadikan kita hidup dalam kebenaran dan keselamatan yang sejati. Bersyukur dan berterima kasihlah atas hidup yang kita jalani sekarang ini! Marilah kita nyatakan syukur dan terima kasih kita dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *