Renungan Berjalan bersama Tuhan

Saksi Dusta

Saksi Dusta

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar” (Amsal 19:5)

Kehidupan kita dalam bermasyarakat dan berjemaat pasti tidak bisa dipisahkan dari jalinan relasi. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang terjun seorang diri dalam masyarakat dan juga berjemaat! Kita semua pasti selalu bersinggungan dengan orang lain, yang akan membuat kita mengalami banyak peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Ada relasi yang saling menguatkan, tetapi ada juga relasi yang dengan sengaja mau menghancurkan. Kita bisa menemui orang-orang yang dengan tulus hati mau menolong, tetapi ada juga orang-orang yang dengan sengaja mau merugikan orang lain. Itulah relasi dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan dalam kehidupan bergereja.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita juga menjumpai orang-orang yang berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena merasa dirinya diperlakukan secara tidak benar dan tidak adil, maka ia menuntut kebenaran dan keadilan bagi dirinya. Bahkan ada orang yang menuntut dan mengejar keadilan tanpa mengenal lelah.

Amsal mengungkapkan bahwa ketika kebenaran dan keadilan itu ditegakkan, maka dibutuhkan seorang saksi. Namun, bagaimana kita bisa menemukan saksi yang benar-benar memiliki kebenaran dan keadilan? Dalam realitas kehidupan, kita banyak menemukan hal-hal yang sangat memprihatinkan karena kebenaran dan keadilan juga dapat “dibeli” oleh orang-orang yang berduit atau mereka yang dengan sengaja memutarbalikkan kebenaran dan keadilan. Perkara apa pun, baik masalah kecil maupun masalah kelas “kakap”, tidak pernah menemukan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya karena semuanya itu dapat dibeli. Demikian pula dengan siapa yang ada di balik perkara itu juga sangat menentukan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Orang yang punya jabatan tinggi akan lebih mudah “mempermainkan” penegakan kebenaran dan keadilan, terutama jika yang dihadapi “orang kecil”. Demikian juga semua yang bisa menjadi saksi, ternyata juga dapat “dibeli” untuk memutarbalikkan kebenaran dan keadilan. Namun, Amsal mengingatkan bahwa orang yang bersaksi dusta akan dihukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *