Khotbah Perjanjian Baru

Saling Membangun dalam Ketaatan

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Matius 25:14-30

Saudara-Saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus, Di pinggir jalan ada rambu lalu lintas dilarang parkir. Kemudian ada seorang yang memarkir kendaraannya di situ. Dia paham arti dan tujuan dari rambu itu, tapi tetap saja dia parkir. Mungkin dia berpikir, ”Ahh…tak mengapa, toh aku hanya parkir sebentar saja.” Apapun alasannya, dalam hal ini dia tak mau taat pada peraturan. Awalnya hanya dia yang parkir, lama-lama semakin banyak orang yang ikut-ikutan parkir di sepanjang jalan itu. Hampir separuh jalan dipenuhi oleh kendaraan, yang mengkibatkan kemacetan cukup panjang. Orang-orang mulai saling membunyikan klakson karena emosi, menjadikan suasana semakin ruwet. Siapa yang dirugikan? Banyak orang! Seandainya peraturan itu ditaati, maka kemacetan tidak perlu terjadi. I ni sekadar contoh kecil akibat ketidaktaatan pada peraturan lalu lintas yang dibuat manusia. Sekarang coba bayangkan, seandainya ketidaktaatan terhadap peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan, bagaimana akibatnya? Oleh karena itu, saat ini kita akan belajar saling membangun dalam ketaatan kepada Tuhan, supaya kita tidak menuai akibat yang mengerikan dalam kehidupan sekarang dan mendatang.

Saudara-Saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus, Dalam Injil Matius 25:14-30, Tuhan Yesus mengajar hal Kerajaan Sorga dengan memberi perumpaan tentang talenta, yang dapat dibagi menjadi tiga segmen. Pertama, pembagian talenta (14b-15a). Sang Tuan memanggil tiga hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Hamba pertama diberi lima talenta, hamba kedua diberi dua talenta, dan hamba ketiga diberi satu talenta. Kriteria yang dipakai Sang Tuan untuk membagi talenta adalah berdasarkan kemampuan hamba-hambanya (ayat 15), bukan tingkat kepercayaan atau kedekatan Sang Tuan kepada masing-masing hamba. Pemberian yang berbeda-beda menunjukkan pengenalan yang mendalam dari Sang Tuan terhadap para hambanya. Ia memperlakukan hambanya secara pribadi, karena Ia mengetahui keunikan dan kemampuan masing-masing hambanya.

Kedua, pengembangan talenta (15b-18). Setelah membagikan talenta kepada para hambanya, Sang Tuan berangkat pergi ke luar negeri. Apa tindakan para hamba? Hamba yang mendapatkan kepercayaan lima talenta, menjalankan uang itu sehingga mendapatkan laba lima talenta. Demikian juga dengan hamba yang mendapatkan kepercayaan dua talenta, dia juga menjalankan uang itu sehingga mendapatkan laba dua talenta. Sedangkan hamba yang ketiga, yang mendapatkan kepercayaan satu talenta tidak menjalankan uang itu, tetapi menggali lobang lalu menyembunyikan uang Sang Tuan.

Ketiga, perhitungan talenta (ayat 19-28). Lama sesudah itu pulanglah Sang Tuan. Kepergian Sang Tuan dalam waktu yang lama memberi waktu yang cukup bagi para hamba untuk mengusahakan hartanya. Ia pergi lama karena ingin kemampuan hambanya dikembangkan sebesar-besarnya. Oleh karena itu, Sang Tuan lalu mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Mereka harus mempertanggungjawabkan talenta yang sudah dipercayakan kepadanya. Hamba yang mendapat lima talenta, datang sambil membawa laba lima talenta yang didapatkannya. Melihat apa yang sudah dikerjakan oleh hamba ini, Sang Tuan begitu gembira dan memujinya. Hal yang sama juga dikatakan Sang Tuan kepada hamba yang mendapat dua talenta, yang datang dengan membawa laba dua talenta. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia pada perkara yang kecil, aku akan memberi engkau tanggung jawab pada perkara yang besar” (ayat 21, 23).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *