Renungan Berjalan bersama Tuhan

Serahkan Rencanamu Kepada Tuhan

Serahkan Rencanamu Kepada Tuhan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu” (Amsal 16:3)

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata “serahkanlah”. Pasti, tidak mudah bukan? Kata itu sangat mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk diterapkan. Mengapa demikian? Karena dalam “penyerahan” itu pasti ada “pelepasan”. Tidak mungkin menyerahkan tanpa melepaskan. Penyerahan adalah bentuk konkret dari pelepasan yang diserahkan dengan sukarela, penuh sukacita, dan kesadaran penuh. Dengan demikian, orang yang menyerahkan benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, yang diberikannya kepada pihak lain. Setelah diserahkan, tidak ada rasa menyesal atau suatu saat mau memintanya kembali! Juga kita memberikannya bukan dengan kepongahan atau kesombongan karena merasa dapat memberikan sesuatu kepada pihak lain.

Di sisi lain, penyerahan dari orang yang kaya dan orang yang miskin juga berbeda. Orang yang mempunyai kelebihan banyak pasti bisa menyerahkan tanpa beban karena ia memberi dari kelebihannya. Berbeda dengan orang miskin. Jika ia bisa menyerahkan apa yang dimilikinya dari kekurangannya, seperti kisah si janda miskin yang diceritakan oleh Tuhan Yesus itu, jelas hal itu bukan hal yang mudah, bukan? Kalau penyerahan dilakukan dari kekurangan pasti membutuhkan tekad yang besar, iman, dan penyerahan diri sepenuhnya. Tak heran jika Tuhan Yesus memuji si janda miskin itu.

Itulah yang dikatakan Amsal, “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan.” Amsal mengajak setiap anak-anak Tuhan untuk dapat menyerahkan segala perbuatannya; apa yang kita miliki atau yang kita punyai, kita serahkan kepada Tuhan. Lalu, apa yang diserahkan? Tak lain adalah “kemauan”. Mengapa demikian? Bukankah sebelum perbuatan itu terwujud, selalu dimulai dengan kemauan? Jika kemauan diserahkan kepada Tuhan terlebih dahulu, apa pun yang dilakukan pasti benar! Itulah sebabnya Amsal berkata, “Terlaksanalah segala rencanamu.” Tuhan akan mengabulkan permintaan yang sesuai dengan kehendak-Nya, bukan yang semata-mata karena keinginan atau kemauan kita. Bukan hanya untuk memuaskan kedagingan kita, melainkan Amsal mengajarkan supaya kita menunggu sejenak untuk bergumul bersama Tuhan. Keinginan yang ada di dalam perencanaan, itulah yang diserahkan kepada Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Yakobus, : “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (Yakobus 4:13-15).

Keinginan yang diserahkan kepada Tuhan adalah keinginan yang dikehendaki-Nya, bukan keinginan kedagingan atau kemauan untuk memuaskan diri kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *