Khotbah Perjanjian Baru

Seri Tujuh Dosa Maut: Keserakahan

Seri Tujuh Dosa Maut: Keserakahan

oleh: Pdt. Joas Adiprasetya

 

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim. 6:10)

When it is a question of money, everyone is of the same religion.” (Voltaire)

Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.” (Mahatma Gandhi)

satu

Mereka yang menangkap binatang-binatang di Afrika untuk dipelihara di kebun-kebun binatang di Amerika pasti sepakat bahwa menangkap kera Afrika adalah pekerjaan yang paling sukar untuk dilakukan. Namun, tidak demikian dengan orang-orang dari suku Zulu. Mereka dapat menangkap binatang lincah ini dengan mudah karena metode yang mereka pakai didasari pengetahuan tentang perilaku kera Afrika ini. Perangkap yang mereka pakai hanyalah sebutir buah melon. Biji buah melon adalah makanan kesukaan kera-kera itu. Orang-orang Zulu biasanya membuat lobang pada satu buah melon yang cukup bagi seekor kera untuk memasukkan tangannya dan merogoh biji-biji melon di dalamnya. Seekor kera yang datang ke buah melon itu biasanya memasukkan tangannya dengan mudah dan meraup sebanyak mungkin biji melon di dalamnya. Namun, saat kera itu ingin mengeluarkan tangannya, dia terperangkap. Kepalan tangannya menjadi besar karena banyaknya biji melon di dalamnya. Dan kera itu lazimnya tak sudi melepaskan biji-biji melon itu. Dan dengan mudah orang-orang Zulu itu menangkapnya.

Inilah ilustrasi yang amat jitu menggambarkan apa artinya keserakahan (Greed). Per definisi, menurut kamus Merriam-Webster Online Dictionary, Greed adalah “a selfish and excessive desire for more of something (as money) than is needed” (sebuah keinginan yang berlebihan dan mengarah pada diri sendiri untuk memiliki sesuatu [misalnya uang] lebih dari yang dibutuhkan.” Jadi, keserakahan bukan sembarang hasrat atau desire, namun secara lebih spesifik, hasrat yang terarah pada diri sendiri serta yang berlebihan. Hasrat yang selalu ingin lebih dan lebih. Dan “lebih” ini tak terukur dan tak terkendali hingga melampaui apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Akan tetapi definisi Merriam-Webster barulah menyentuh gejala keserakahan. Jika kita ingin membedah anatomi keserakahan, definisi ini barulah lapis yang pertama. Ia belum sampai menukik pada hakikat terdalam dari keserakahan.

 

dua

Menurut definisi leksikal tersebut, apa yang bermasalah dengan keserakahan adalah ketika kebutuhan bercampur-baur dengan keinginan, need dan want, necessity dan desire. Kita menjadi serakah ketika apa yang kita inginkan disamarkan menjadi apa yang kita butuhkan. Padahal kita sebenarnya tak sungguh-sungguh membutuhkannya. Kita hanya menginginkannya. Beberapa tahun lalu saya tidak perlu membayar Bill Gates untuk bisa menulis makalah yang saya bagi setiap Selasa ini. Saya cukup memakai mesin ketik biasa. Namun, sekarang, selalu ada suara dalam benak saya berkata, “Saya butuh komputer terbaru, supaya pelayanan saya berjalan baik.” Kalimat “saya butuh …” sesungguhnya identik dengan kalimat “saya ingin …” Batas antara kebutuhan dan keinginan makin tipis dan makin kabur. Hidup di Los Angeles, tak seorang pun menyangkal, membutuhkan mobil. Ini sudah menjadi kebutuhan. Namun, “Saya membutuhkan mobil KIA yang paling murah” dan “Saya membutuhkan mobil BMW M6 Coupe” bukan lagi soal kebutuhan, namun keinginan. Dan kita menyamakannya begitu saja. Kita tak akan kesulitan menemukan justifikasi untuk menyamarkan keinginan ini dengan kebutuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *