Renungan Berjalan bersama Tuhan

Siapakah Anak Manusia Itu?

Siapakah Anak Manusia Itu?

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Mazmur 8:1-10

Pernahkah kita bertemu dengan seseorang yang sedang frustrasi atau stres, yang terus-menerus mengatakan, Siapakah aku ini sebenarnya? Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Bukankah aku lebih baik tidak dilahirkan dan tidak ada di dunia ini daripada menjalani hidup yang penuh penderitaan? Ya, jelas pertanyaan itu muncul karena memang orang tersebut sedang dalam keadaan susah, menanggung beban berat, dan mungkin dia juga sudah tidak kuat menjalani hidup ini. Keputusasaan sudah begitu menguasai hidupnya sehingga ia tidak dapat melihat dirinya berharga, penting, dan masih berguna untuk banyak hal. Ia hanya melihat dirinya sendiri dengan segala persoalan dan beban beratnya. Ia tidak mampu lagi melihat orang lain yang berada di sekitarnya, yang bisa memberikan pertolongan dan semangat baginya untuk menjalani hidup ini. Bahkan ia juga sudah tidak dapat melihat bahwa Tuhan menyertainya.

Berbeda dengan pemazmur, yang sedang bertanya kepada Tuhan mengenai dirinya sendiri. Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Pada saat itu, Daud juga sedang menanggung beban yang berat. Pada saat itu, ia hanya bisa menatap ke langit dan melihat apa saja yang terjadi di atas sana! Memang hanya bulan dan bintang yang terlihat karena saat itu malam hari. Di sanalah Daud melihat kebesaran Allah yang luar biasa! Terlihat bulan dan bintang, yang tidak diketahui seberapa besarnya. Meskipun berjarak ribuan kilometre, benda langit itu masih bisa dilihat oleh mata. Bintang-bintang itu bertebaran di langit, tetapi tidak ada satu bintang pun yang saling menimpa! Betapa agung dan mulianya Tuhan itu! Dari pengalaman itu, kemudian Daud bertanya, “Tuhan siapakah aku ini? Aku manusia yang begitu kecil dibandingkan dengan karya-Mu di seluruh jagat raya ini. Banyak ungkapan yang menggambarkan manusia. Manusia itu seperti pasir di laut, sangat kecil. Tetapi, justru yang paling kecil itulah yang sangat Engkau hargai. Engkau begitu mengindahkan manusia dari segala ciptaan yang ada di dalam seluruh alam semesta ini.” Tidak ada ciptaan lain yang dihargai dan diindahkan setinggi manusia! Tuhan mengindahkan manusia itu hanya dengan satu sikap-Nya yaitu “Mengingatnya”. Di jagat raya yang luas ini, Tuhan tidak pernah melupakan manusia. Itulah kebanggaan Daud dalam mengenal Allah dan Tuhannya. Tuhan mengenal kita dan tidak akan melupakan kita. Hal itu bahkan diwujudkan dalam penderitaan-Nya menjadi manusia, untuk mencari dan mendapatkan kita yang terhilang. Dia terus “mengingat” kita dengan kasih-Nya. Dialah harapan kita yang sejati. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *