Renungan Berjalan bersama Tuhan

Suamiku Dokter Pribadiku

Suamiku Dokter Pribadiku

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Efesus 5:22-33

Pernyataan yang sangat baik bagi orang yang berkeluarga: “Suamiku Dokter Pribadiku” tentu tidak berarti bahwa para suami berprofesi sebagai dokter. Moto ini menunjukkan peran suami dalam berelasi dengan istrinya. Si istri ingin agar suaminya bisa menjadi dokter pribadinya. Di sini yang ditekankan adalah peran si suami sebagai dokter pribadi. Apa yang dimaksudkan dengan dokter pribadi itu?

Pertama-tama, sebagai orang yang bisa dipercaya—karena seorang pasien bisa terbuka apa adanya untuk menceritakan kondisi yang sebenarnya tanpa rasa sungkan, malu, atau takut. Si pasien benar-benar percaya kepadanya. Bahkan dalam menceritakan masalah kesehatan yang dihadapinya, ia bisa melibatkan dirinya secara emosional sehingga mengalami kelegaan.

Kedua, sebagai orang yang dibutuhkan pada saat-saat yang mengkhawatirkan. Ini merupakan peran yang sangat penting bagi seorang dokter pribadi, terlebih-lebih ketika si pasien tiba-tiba jatuh sakit dan sakitnya sangat mengkhawatirkan. Si pasien pasti akan segera mencari dokter pribadinya di mana pun dan kapan pun. Ia tidak akan sungkan untuk menghubunginya melalui telepon atau ponsel, bahkan tengah malam sekalipun. Mengapa? Karena memang kondisinya membutuhkan kehadiran si dokter.

 

Ketiga, sebagai orang yang dapat memberikan perlindungan dan rasa aman. Mengapa pasien sangat membutuhkan kehadiran dokter pribadinya? Karena setelah ia menceritakan apa yang dialaminya—sebab ia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya—maka ia mengharapkan perlindungan dan rasa aman dari penyakit yang dideritanya. Kata demi kata yang diucapkan oleh si dokter akan didengarnya dengan baik, juga diikuti dan dilakukannya.

 

Peran-peran itulah yang dirindukan oleh seorang istri, yakni suami yang benar-benar bisa dipercaya. Apakah hal ini lalu mengindikasikan bahwa para suami sudah tidak dapat dipercaya lagi? Jangan terburu-buru marah. Mungkin kata “kurang bisa dipercaya” terdengar tajam di telinga para suami. Sebenarnya, yang dimaksudkan dengan “dapat dipercaya” mencakup seluruh aspek kehidupan keluarga, baik pekerjaan, relasi dengan orang lain, bahkan sampai pada hobi. Jika seorang suami benar-benar dapat dipercaya, maka kehadirannya pasti sangat dibutuhkan, terutama ketika si istri merasa tidak aman dan gelisah.

 

Peran suami dibutuhkan untuk memberi rasa aman. Kehadirannya diharapkan bisa memberi diagnosa yang tepat dan kata-kata yang menenangkan di tengah kekhawatiran istrinya. Itulah wujud dari seorang suami yang mengasihi istrinya. Paulus berkata, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Suami dipanggil untuk mengasihi istrinya, sama seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya, yakni rela berkorban, dan bahkan mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan jemaat-Nya. Betapa indahnya jika para suami dapat berperan sebagai dokter pribadi bagi istri mereka! Bagaimana bila istri juga berperan sebagai dokter pribadi bagi suaminya? Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *