Renungan Berjalan bersama Tuhan

Sudah Bersihkah Hatiku?

Sudah Bersihkah Hatiku?

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?'” (Amsal 20:9)

Siapakah aku ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada kita semua, pasti tidak mudah untuk dijawab. Kecuali jawaban sederhana, misalnya saya ini pedagang, guru, dosen, dokter, ahli ekonomi, pengacara, dan sebagainya. Namun, kalau pertanyaan itu mengandung nilai, hakikat diri, makna diri, pasti tidak mudah untuk dijawab. Di sini Amsal seolah-olah “menantang” kepada orang banyak siapa yang berani berkata, “Aku orang yang sudah membersihkan hatiku, aku orang yang sudah kudus, bersih dari dosa-dosaku.” Ungkapan Amsal adalah pernyataan realitas sosial, yang artinya Amsal sudah meneliti banyak orang, dan siapa yang berani berkata “aku telah membersihkan hatiku?” Orang yang berkata demikian berarti sudah benar-benar menjadi orang yang bersih hidupnya, bebas dari kehidupan yang berdosa. Menjadi orang yang kudus dalam seluruh hidupnya.

Adakah orang seperti itu? Itulah sebabnya tak satu pun orang berani berkata seperti itu karena memang tidak mungkin kita bisa menjadi orang yang bersih hatinya. Pertanyaan yang penting adalah dengan cara apa seseorang bisa membersihkan hatinya? Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang mau menahirkan dirinya dari segala dosanya? Apakah dengan bekerja giat tanpa mengenal lelah? Apakah dengan menyepi di puncak gunung atau bertapa di gua-gua? Apakah dengan cara menyiksa diri? Apakah dengan setiap hari membaca firman Tuhan tanpa henti, terus diulang-ulang dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu? Apakah dengan hidup jujur, tidak pernah menipu, tidak berbohong, dan sejenisnya? Apakah kalau semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh bisa membuat seseorang bersih hatinya?

Amsal dengan jelas menyatakan, “Siapakah dapat berkata.” Dalam terjemahan lain dikatakan, “Adakah orang yang bisa berkata.” Dengan kata lain, Amsal ingin mengungkapkan bahwa tidak ada seorang pun yang berani berkata bahwa “Aku dapat membersihkan hatiku sendiri!” Kita tidak akan mampu menahirkan dosa-dosa kita. Ini merupakan prinsip yang sangat penting. Mengapa? Karena justru hati itu yang menjadi sumber dosa. Orang yang sudah jatuh ke dalam dosa, hanya bisa melakukan perbuatan-perbuatan dosa, kata Bapa Gereja John Calvin. Hanya anugerah Allah yang dapat membersihkan segala dosa kita. Amsal mengingatkan kita bahwa tidak mungkin ada orang yang berani berkata, “Hatiku sudah bersih.” Amsal mengajak kita untuk kembali kepada Tuhan dan mencari Tuhan karena hanya Tuhan yang dapat membersihkan, menyucikan, atau menguduskan hati kita. Dengan hati yang sudah dikuduskan, kelakuan kita juga akan berada dalam kekudusan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku sadar bahwa aku tidak mungkin dapat menyucikan hatiku yang kotor ini. Aku membutuhkan Tuhan Yesus untuk menyelamatkan aku dan mengubah hatiku menjadi bersih. Dengan demikian, seluruh hidupku berada di dalam kebenaran yang Tuhan inginkan.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja untuk terus menyadarkan semua orang bahwa kami semua ada dalam kebinasaan, hati kami sudah kotor. Hati kami sudah dikuasai dosa dan tidak mempunyai kebenaran sejati. Pimpinlah kami untuk terus menyampaikan kebenaran firman Tuhan bahwa Engkau saja yang dapat menyucikan dan membersihkan hati kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *