Khotbah Perjanjian Baru

Sungguh-sungguh Bergumul, Sungguh-sungguh Beriman

Sungguh-sungguh Bergumul, Sungguh-sungguh Beriman

Yohanes 20:19-31

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Setiap kali saya bepergian menggunakan kendaraan bermotor, dokter menyarankan saya untuk menggunakan kacamata hitam. “Syaraf mata Bapak agak lemah sehingga mudah merah. Jadi, mata Bapak harus dilindungi dari terang,” begitu kata dokter. Saya menaati saran itu. Namun masalahnya, saya harus pakai kacamata hitam yang seperti apa? Yang 10 ribuan, 300 ribuan, atau sejutaan? Dulu saya pikir semua sama, hanya beda merek dan gengsi saja. Ternyata, memang ada harga ada rupa. Semakin mahal, semakin teduh dan nyaman digunakan. Sungguh berbeda antara pakai kacamata hitam merek Rayband yang 10 ribuan dan Rayband yang asli. Melalui kacamata hitam itulah saya melihat dunia di sekitar saya, bahkan diri saya sendiri ketika sedang berkendara. Dengan kacamata itu semua terlihat berbeda dibandingkan bila dilihat dengan mata telanjang.

Iman itu seperti kacamata yang darinya kita dapat melihat dunia di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri. Beda iman, beda pula persepsi yang ditangkap, meski kenyataannya sama. Nah, yang ini lebih gampang diilustrasikan melalui cerita daripada konseptual begini.

Seorang janda tinggal seorang diri dan hidup dari uang pensiunan. Ia sangat beriman kepada Tuhan. Setiap pagi ia bersyukur kepada Tuhan dalam doanya. Tetangganya, seorang ateis, tidak menyukai hal itu. Suatu pagi, tetangga tersebut mendengar si janda itu berdoa meminta sembako, karena persediaannya sudah hampir habis dan uang pensiun terlambat datang. Tetangga itu pergi diam-diam membeli sembako dan meletakkannya di depan pintu rumah si janda. Ketika si janda menemukan sembako itu, ia segera berlutut dan menaikkan doa syukur. Tiba-tiba si tetangga yang ateis muncul dan mengejek, “Kamu memang janda yang bodoh. Aku yang memberi sembako itu untukmu, bukan Tuhan yang setiap pagi kausapa dengan doamu. Kalau bukan aku yang memberi, kamu pasti mati. Tuhan itu tidak ada.” Mendengar itu si janda langsung berlutut dan kembali berdoa. Kali ini dengan suara keras, “Ya, Tuhan, Engkau sungguh mahamurah. Engkau bukan saja mengirimkan sembako ini, tetapi Engkau juga telah memerintahkan si Iblis ini untuk membayarnya.”

Kenyataan yang sama namun tampak berbeda, dari dua kacamata yang berbeda. Si tetangga melihat peristiwa itu sebagai bukti kemenangan keyakinannya bahwa Tuhan itu tidak ada. Si janda melihat betapa maksud jahat tetangganya itu telah dipakai Tuhan menjadi saluran berkat baginya. Jadi, masalah kita adalah apakah kita telah mempunyai kacamata iman yang tepat untuk melihat dunia di sekitar kita?

Iman Kristen mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada cara lain yang lebih tepat dalam memandang kehidupan ini selain memandangnya dengan cara pandang Sang Pencipta. Tapi, bagaimana kita dapat melihat dari kacamata Sang Pencipta? Untuk itulah Sang Pencipta harus menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *