Khotbah Perjanjian Lama

Tabah dalam Kesulitan

Yehezkiel 2:1-10

Oleh: Pdt. Em. Stefanus Semianta 

Beberapa waktu yg lalu, di suatu jemaat ada seorang pimpinan badan pelayanan yang mengembalikan tugasnya karena merasa tidak cocok dengan kebijakan bendahara jemaat dalam pengelolaan keuangan.  Kasus demikian merupakan salah satu dari aneka kasus yang terjadi dalam pelayanan jemaat. Ketika seseorang berhadapan dengan kesulitan bekerjasama dengan rekan pelayanan dalam menyelesaikan tanggung jawab, kesulitan menyatukan pendapat, kesulitan beradaptasi dengan rekan sepelayanan, membuat ia memilih untuk berdiam diri, lebih baik tidak melayani dari pada pusing-pusing berhadapan dengan teman atau birokrasi yg terkesan berbelit-belit. Lebih jauh bahkan ada yang memilih undur diri dari jemaat dan pindah ke gereja lain, atau meninggalkan Tuhan. 

Di masyarakat kita juga mendengar beberapa kejadian bunuh diri dengan berbagai cara, karena kegagalan  membangun kehidupan. Dari  peristiwa-peristiwa tersebut, kita menyaksikan betapa banyak orang tidak berani menghadapi  kesulitan dalam pelayanan, pekerjaan maupun dalam kehidupan. Betapa kesulitan sering membuat orang menjadi kehilangan  gairah dan semangat untuk melanjutkan tugas pelayanan, pekerjaan, bahkan melanjuttkan hidup.

Setiap orang pada dasarnya memang mendambakan sebuah kehidupan yang mulus, bebas dari berbagai kesulitan. Tetapi harapan yang demikian tentunya bukan hal yang realistis. Mengapa? Karena selama kita masih  hidup, terdiri dari darah, daging dan tulang, kesulitan dalam berbagai bentuknya adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Betapapun demikian, banyak orang tak memiliki kesiapan untuk menghadapinya. Oleh karena itulah banyak diantaranya yang memilih untuk berhenti, berdiam diri atau bahkan undur diri dan menjauh sama sekali dari berbagai tugas dan tanggung jawabnya ketika dalam hidup, pekerjaan dan pelayanannya, mereka harus berhadapan dengan yang namanya kesulitan.

Perikop kita yang berkisah tentang pengutusan Allah kepada Yehezkiel, menjadi teladan bagi kita bagaimana seharusnya sebagai orang beriman menghadapi kesulitan dalam pelayanan, pekerjaan, maupun dalam kehidupan.  Di tengah suasana kehidupan umat Israel yang saat itu memberontak kepada Allah dengan melakukan penyembahan kepada berhala, Allah mengutus Yehezkiel untuk menyampaikan firman Tuhan dan menasihati mereka.

Para pemimpin yang semestinya menjadi teladan dalam iman percaya kepada Allah dan hidup bergantung kepada-Nya, mengandalkan-Nya dalam segala perkara kehidupan, justru mereka hidup dengan mengandalkan diri dan kekuatan sendiri, merupakan sikap dan perilaku hidup yang memalukan.

Kepada bangsa yang demikianlah Allah mengutus Yehezkiel untuk menyampaikan firmanNya. Ini merupakan tugas yang tidak mudah untuk dilakukan oleh seorang Yeheskiel. Ini merupakan tugas yang berat dan sulit. Mengapa? Karena dosa-dosa mereka yang begitu berat (ayat 22). Sifat dan karakter umat yang dikatakan sebagai bangsa yang keras dan tegar tengkuk (3:7). Mereka tidak mau mendengarkan firman Allah, tetapi justru membelakangi-Nya dan memusuhi-Nya. Hal itu tentu mempersulit Yehezkiel dalam menjalankan tugas panggilannya. Seseorang yang memiliki dosa besar dan berat, namun memiliki kesediaan untuk mendengar masukan dan nasihat dari pihak lain akan lebih mudah untuk mengatasinya. Tetapi menjadi amat sulit dan memerlukan kesabaran dan keuletan bila yang bersangkutan mengeraskan hati. Dan inilah yang terjadi pada umat Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *