Renungan Berjalan bersama Tuhan

Tabor: Gunung Kemuliaan

Tabor: Gunung Kemuliaan

Matius 17:1-13

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Tak ada orang yang tidak pernah melihat gunung. Gunung itu tinggi, puncaknya “mencakar” langit, dan kokoh. Dasar gunung sangat dalam, panjang dan lebar, sehingga kuat menyangga tanah, batu dan pepohonan raksasa. Gunung kerap diumpakan sebagai tempat sandaran hidup yang kuat, bahkan ada yang menganggap menjadi tujuan akhir hidup yang kekal. Itulah sebabnya ada banyak kepercayaan kuno dikaitkan dengan gunung. Apabila seseorang meninggal, maka ia akan dikubur menghadap atau di atas gunung. Sebisa mungkin di tempat tertinggi di gunung dan menghadap laut agar mereka yang berziarah bisa mendapatkan pemandangan yang bagus. Gunung dipakai sebagai simbol kekuatan bagi orang yang masih hidup sampai saat ia bersemayam di alam maut.

Terlepas dari semua kepercayaan itu, Gunung Tabor menjadi tempat “rapat agung” yang singkat antara Tuhan Yesus, Musa, dan Elia. Matius mencatat notulen rapat itu, dengan pendahuluan, “Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia” (Matius 17:1-3). Tentunya “rapat” itu merupakan rapat yang penuh dengan mukjizat, keagungan, dan kemuliaan. Alasan dari semua itu adalah karena para “peserta rapat” hadir dengan wajah yang bersinar-sinar. Inilah rapat gerejawi yang sesungguhnya. Berbeda jauh dengan rapat sekuler dan duniawi, rapat yang diwarnai dengan kedagingan, suasana emosional, dan pihak-pihak yang ingin menang sendiri! “Rapat” di Gunung Tabor adalah “rapat” yang diakhiri dengan damai sejahtera dan sukacita. Itulah rapat yang disaksikan oleh murid-murid Yesus: “Rapat Gunung Tabor”, rapat yang penuh dengan kemuliaan Allah, rapat yang sungguh-sungguh dihadiri oleh Allah! Lalu, apa yang dibicarakan di dalamnya? Para penafsir mengatakan Musa hadir untuk mewakili eksekusi hukum Taurat. Sedangkan Elia mewakili para nabi dalam Perjanjian Lama. Dan peserta rapat terakhir, Yesus, hadir sebagai “pelaksana keputusan rapat”. Sedangkan ketua rapat itu sendiri tak lain adalah Allah Bapa. Isi dan keputusan rapat dicatat oleh Matius, yang menulis, “Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia’” (Matius 17:5). Allah sebagai ketua rapat memberitahukan kepada Musa dan Elia bahwa Yesus yang akan menggenapi tuntutan hukum Taurat dan semua kitab para nabi. Yesuslah yang akan melaksanakan tugas itu sampai tuntas di kayu salib. Itulah kesimpulan dari “Rapat Agung” tersebut. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur atas kasih karunia Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus yang telah mengasihi semua manusia untuk diselamatkan dari kebinasaan. Pimpinlah seluruh hidupku untuk melayani Tuhan, ajarlah aku membalas cinta kasih Tuhan sekalipun sesungguhnya tak mungkin terbayarkan. Jadikan aku hamba-Mu yang setia.
  2. Tuhan, pimpinlah kami menjadi umat yang takut akan Engkau, yang setia menjadi saksi kehidupan yang penuh kasih. Biarlah melalui gereja-Mu, kami dapat menyatakan kasih-Mu secara nyata, peka terhadap lingkungan sekitar gereja, mewujudkan pelayanan yang membangun masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *