Khotbah Perjanjian Lama

Tak Ada Gading yang Tak Retak

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari 

Ayub 39:34-38

Banyak orang memuja sosok tertentu seolah dia adalah malaikat yang sempurna, tetapi, ketika tokoh tersebut jatuh, mereka kecewa dan menghujatnya habis-habisan seolah berkata: “Tidak ada maaf bagimu!”

Mengapa Orang Bisa Berbalik Sikap Secara Drastis?

Karena mereka lupa bahwa  betapa pun hebatnya seseorang tetap ada kelemahannya, “tak ada gading yang tak retak”, kata pepatah.

Ayub adalah orang yang saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (1:1). Dia hidup dengan sangat hati-hati, setiap kali anak-anaknya berpesta, ia selalua memanggil dan menguduskan mereka dan besok paginya mempersembahkan korban bakaran sejumlah mereka untuk mengantisipasi seandainya mereka berbuat dosa dan mengutuki Allah (1:5), sehingga Allah pun memuji dia, bahkan di hadapan iblis (1:8).

Keadaan tersebut memancing iblis untuk menantang Allah agar mengambil semua yang dia miliki dan sangat mengejutkan, Allah mempersilakan iblis untuk melakukannya dengan batasan tidak boleh menyentuh tubuhnya (1:9-12), sehingga iblis pun segera melaksanakan niatnya itu dan dalam sekejap mata semua hartanya habis dan semua anaknya tewas (1:13-19).

Meskipun demikian, Ayub menanggapi kehilangannya itu dengan sikap iman yang luar biasa: berdiri, mengoyak jubahnya, mencukur kepalanya, sujud menyembah dan berkata: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (1:20-21).

Keteguhan Ayub tidak membuat iblis menyerah, dia menuntut untuk menjamah tubuhnya dan sekali lagi Tuhan menyetujuinya (2:4-6). Iblis pun segera bertindak, Ayub ditimpanya dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, sehingga Ayub harus menggaruk-garuk badannya dengan sekeping beling sambil duduk di atas abu (2:7-8). Isterinya, satu-satunya miliknya yang masih tinggal, tidak tahan lagi dan berkata kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Habislah semua yang dimilikinya. Ayub tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi, benar-benar terpuruk dengan tubuh remuk. Meskipun demikian, Ayub masih bisa menanggapi semuanya dengan sikap iman, dia menjawab: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (2:10)

Ayub benar-benar luar biasa, tetapi apakah dia sempurna? Ternyata tidak! Ayub sedikit terhibur ketika para sahabatnya datang, menangis bersamanya, mengoyak jubah mereka, dan menaburkan debu di kepala, sebagai tanda dukacita yang sangat mendalam. Selama tujuh hari mereka menemaninya duduk di atas abu dengan mulut terkunci, tak kuasa melihat betapa berat penderitaannya. Namun semuanya berubah ketika Ayub mencoba mencurahkan kepedihan hatinya kepada mereka. Bukan pengertian yang dia dapat, melainkan penghakiman. Mereka menuduh Ayub berdosa dan sekarang sedang menuai akibatnya. Semua penjelasan Ayub tidak ada gunanya bahkan semakin memperberat penghakiman mereka. Akhirnya jatuhlah Ayub, dia marah kepada mereka, mengasihani dirinya sendiri, dan berusaha sekuat tenaga membuktikan bahwa dirinya telah hidup saleh dan tidak bersalah. Ayub terpancing sehingga tanpa sadar telah melakukan hal yang sama dengan teman-temannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *