Khotbah Perjanjian Baru

TAK TERSELAMI

Kejadian 45:1-15

Pdt. Andy Kirana

Sampai saat ini pandemi Covid-19 masih belum sepenuhnya reda. Malahan di beberapa tempat terjadi klaster baru, terutama di tempat kerja dan pasar-pasar. Apakah Saudara bersyukur kepada Tuhan karena tidak terpapar Covid-19? (Puji Tuhan, ternyata Tuhan masih mengasihi aku, sehingga aku terhindar dari Covid-19). Jika Tuhan menghindarkan Saudara dari Covid-19, lalu mengapa Tuhan tidak menghindarkan orang lain juga? Apakah Tuhan tebang pilih? Bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka yang terpapar Covid-19 disebabkan karena kesalahan dan dosanya, dan mereka yang terhindar dari Covid-19 karena mereka hidup suci dan benar. Apakah memang begitu? Jika Allah mengasihi manusia, mengapa ada pandemi Covid-19?

Kita tidak bisa menyelami pikiran dan rancangan Tuhan, kita tidak bisa mengerti kasih Tuhan. “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya” (Roma 12:33-34). Manusia tidak bisa melihat kehidupannya secara utuh. Hidup kita ibarat kepingan-kepingan puzzle. Hanya Tuhan yang bisa menyusun kepingan-kepingan hidup kita menjadi lengkap, karena Dia yang merancang gambaran utuhnya. Demikian juga kalau kita melihat kepingan-kepingan puzzle kehidupan Yusuf.

Marilah kita perhatikan kepingan-kepingan puzzle kehidupan Yusuf yang dimulai saat usianya 17 tahun. Di tengah keluarga, Yusuf adalah anak kesayangan bapak Yakub, namun sangat dibenci oleh saudara-saudaranya. Kebencian itu muncul ke permukaan dengan rencana untuk membunuhnya, namun rencana itu berubah dan Yusuf dibuang ke dalam sumur. Kemudian saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak, dan menjadi budak keluarga Potifar di Mesir. Ketika jadi budak, Yusuf difitnah oleh istri Potifar bahwa ia telah memperkosanya, sehingga dijebloskan ke dalam penjara. Di dalam penjara Yusuf bertemu dengan pegawai raja yang akan membantunya, namun sampai 2 tahun janji itu tidak terpenuhi. Dalam pikiran kita manusia, Yusuf adalah seorang yang gagal total menjalani hidupnya. Penderitaan demi penderitaan tidak pernah lepas darinya.

Namun pikiran kita tidak sama dengan apa yang dipikirkan Allah. Saat raja Firaun mendapat mimpi, pegawai istana (kepala juru minuman raja) kembali ingat Yusuf (setelah 2 tahun dilupakan), karena pernah menafsirkan mimpinya dan benar. Yusuf dipanggil ke istana dan menafsirkan mimpi raja Firaun, setelah para ahli istana tidak mampu menafsirkannya. Yusuf menafsirkan mimpi Firaun, bahkan ia memberikan solusi atas mimpinya. Akhirnya, Yusuf diangkat menjadi orang kedua yang berkuasa di Mesir. Yusuf menjadi Perdana Menteri di usia 30 tahun (Coba hitung berapa tahun Yusuf mengalami hidup dalam penderitaan? 13 tahun!).

Betapa jauhnya pikiran kita manusia dengan pikiran Allah. Allah mempunyai skenario hidup bagi Yusuf; bukan kegagalan, tetapi keberhasilan baginya. Bahkan ada rencana yang tidak bisa kita selami dibalik penderitaan demi penderitaan sampai dengan pengangkatan Yusuf sebagai Perdana Menteri Mesir. Ternyata Allah merencanakan tidak hanya menyelamatkan bangsa Mesir, tetapi juga untuk mempertahankan sebuah keluarga Israel (cikal bakal bangsa Israel) yang sedang mengalami bencana kelaparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *