Khotbah Perjanjian Baru

TAK TERSELAMI

Ketika bertemu saudara-saudaranya, Yusuf berkata: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ayat 5). Yusuf tidak akan pernah bisa mengucapkan perkataan yang meyakinkan itu, seandainya ia belum sepenuhnya mengampuni saudara-saudaranya. Anda tidak dapat dengan tulus memeluk seorang yang belum benar-benar Anda maafkan. Yusuf tidak melihat saudara-saudaranya sebagai musuh, karena cara pandangnya telah diubah menjadi cara pandang ilahi. Yusuf mampu melihat bahwa semua penderitaan yang telah terjadi adalah rencana dan cara Allah dalam memberikan kebaikan baginya dan keluarganya. Yusuf mengulang perkataannya itu dalam
Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
Melalui kepingan-kepingan puzzle kehidupan Yusuf ini, kita dapat belajar dari pikiran Tuhan yang sering tidak terselami:

Pertama, Allah melihat pekerjaan-Nya dari awal sampai akhir

Oleh karena itu janganlah kita menilai apa pun sebelum waktunya. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Kedua, Allah sering kali bekerja melalui hal-hal yang bertolak belakang

Iri hati dan persaingan bisa menjadi ancaman kehancuran hubungan keluarga, tetapi justru terbukti menyatukan keluarga Yakub. Demikian juga, banyak dari mereka yang menginginkan kematian Kristus, justru diselamatkan oleh kematian-Nya.

Ketiga, Allah harus menerima seluruh kemuliaan atas pemeliharaan-Nya melalui cara apa pun hal itu dihasilkan

“Bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (ayat 8).

Semua itu Allah yang melakukannya, bukan saudara-saudaranya. Mereka berencana menjual Yusuf ke Mesir supaya mimpi-mimpinya tidak menjadi kenyataan, tetapi melalui hal itu Allah justru berencana untuk menggenapinya. Inilah kasih karunia Tuhan. Seluruh kemuliaan hanya bagi Allah kita! Haleluya!

Kalau kita melihat kehidupan Yusuf dan juga kehidupan kita, rasanya hidup ini seperti ketapel. Ketika kayu pegangannya kuat dan tali yang ditarik semakin rendah, maka lemparan batu akan semakin melambung tinggi dan jauh. Semakin rendah titik dalam hidup, maka peluang untuk belajar dan introspeksi diri semakin luas. Ketika sudah melewati titik terendah, kita akan menjadi pribadi yang kuat, yang siap untuk melambung lebih tinggi dari sebelumnya. Melambung tinggi seperti Yusuf!

Kalau saat ini Saudara sedang berada di titik terendah dalam hidup, tetaplah berpegang pada iman dan pengharapan yang teguh. Tuhan senantiasa memberi sukacita, setelah deraian airmata; seperti pelangi ada, setelah hujan reda. Walaupun kita tidak mampu menyelami pikiran Tuhan, dan tidak mengerti apa yang kita alami saat ini; namun saatnya nanti akan tiba, kita melihat pelangi kasih-Nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *