Renungan Berjalan bersama Tuhan

Takut Merupakan Bukti Ketaatan dan Kasih

Takut Merupakan Bukti Ketaatan dan Kasih

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

Sapaan Amsal sejak awal sudah dimulai dengan pernyataan bahwa orang yang ingin mendapatkan hikmat harus dimulai dengan takut akan Tuhan. Jelas takut di sini bukan seperti orang yang ketakutan! Takut adalah bukti dari ketaatan dan kasih. Seseorang yang mengasihi dan mau taat pada orang lain ditandai dengan sikap takut, yaitu menuruti apa yang dikehendaki untuk dilakukan dalam hidupnya. Seorang anak yang takut pada orangtuanya ditandai dengan menaati apa yang diinginkan orangtuanya. Aturan orangtua bukan dianggap beban yang mengikat, melainkan dihayati sang anak sebagai ketaatan penuh sukacita. Ketika dilakukan dengan sukacita, itu juga menjadi wujud sang anak mengasihi orangtuanya. Ia tahu jika ia tidak taat pada orangtuanya, ia membuat orangtuanya sangat sedih. Ketika seorang anak menuruti apa yang diinginkan orangtuanya, melakukannya dengan sukacita karena mengasihi orangtuanya, itu adalah wujud nyata dari takut akan orangtua.

Sikap itu berkali-kali diulang oleh Amsal. Dalam pasal 9:10, Amsal mengatakan, “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Jadi orang yang menginginkan hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan diwujudkan dengan menaati semua aturan firman Tuhan dengan penuh sukacita, bukannya menjadi orang legalistik yang menaati aturan dengan beban berat. Ia berusaha terus-menerus menyenangkan hati Tuhan, yang diwujudkan melalui kesaksian hidupnya yang menjadi berkat bagi orang lain.

Amsal menambahkan lagi, bukan hanya takut akan Tuhan tetapi juga “mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian”. Artinya, kita diajak untuk mengenal Allah dengan sifat-Nya yang mahakudus. Allah adalah Allah yang kudus, maka semua orang yang percaya kepada Allah, harus menjalaninya dengan hidup kudus. Petrus mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:16). Hidup kudus merupakan konsekuensi logis dari kita yang percaya kepada Allah. Allah adalah Allah yang kudus, maka hidup kita juga harus kudus bersama Allah. Secara sederhana, pengertian kudus adalah “hidup yang dipisahkan dari yang lain” atau “hidup yang tidak sama dengan yang lain”. Yang dimaksud adalah menjalani hidup dengan pola dan cara-cara yang Tuhan suka, bukan yang najis bagi Tuhan. Misalnya, hati mendua, di satu sisi percaya kepada Tuhan, di sisi lain masih memegang kepercayaan lain. Ada “berhala” dalam hidupnya.

Hidup kudus juga dinyatakan melalui sikap kerja kita. Kita selalu dituntut untuk hidup jujur dalam tutur kata, sikap, perbuatan, janji, dan sebagainya. Menepati janji merupakan bagian dari kejujuran. Kekudusan juga mencakup bagian kehidupan moral. Sepak terjang yang sama sekali tidak menghiraukan siapa pun, menghalalkan segala cara, dan menjalani hidup semaunya sendiri adalah sikap yang tidak diperkenankan Tuhan. Oleh karena itu, orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral akan menjalani hidupnya dengan penuh kesalehan. Bukan berarti menjalani hidup dengan lembek, terus mengalah, rela diinjak-injak sekalipun benar. Bukan seperti itu. Kesalehan hidup adalah menjalani hidup dengan berani menyatakan apa adanya; kebenaran adalah kebenaran, bukan dimanipulasi dengan alasan-alasan yang masuk akal untuk memutarbalikkan kebenaran, keadilan, kekudusan, dan kasih. Hidup itu harus transparan, bukan terselubung atau tersembunyi. Hidup yang penuh hikmat adalah terus mengenal Yang Mahakudus sampai memperoleh pengertian. Pengertian itu akan memberikan pencerahan dalam hidupnya, sehingga mampu mengatasi segala masalah. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *