Khotbah Perjanjian Baru

Tanda-tanda Kedatangan Kristus, Siapkah Kita? 

Tanda-tanda Kedatangan Kristus, Siapkah Kita? 

Matius 24:36-51

Oleh: Sepridel Hae Tada

 

Suatu ketika, saya memenuhi undangan Komisi Remaja di sebuah gereja, dan tema yang disodorkan kepada saya adalah parusia atau kedatangan Kristus. Tema ini sangat luas dan memiliki banyak aspek yang dapat dibicarakan. Seorang mahasiswa teologi tidak cukup memelajari eskatologi hanya dalam satu semester saja untuk memahaminya dengan tuntas, sehingga mereka harus memelajarinya secara mandiri dengan dukungan berbagai buku. Jadi bahasan saya kali ini tidak akan cukup memuaskan keingintahuan Anda akan seluruh kebenaran tentang doktrin ini. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu membicarakannya. Saya ingin menegaskan bahwa doktrin ini sangat perlu kita pelajari, karena Anda dapat mengetahui tanda-tanda kedatangan Kristus. Tetapi yang lebih penting adalah pertanyaan ini: apakah saya dan Anda siap untuk menghadapi kedatangan-Nya atau tidak?

 

Ayat bacaan kita kali ini diawali dengan pernyataan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hari dan saat kedatangan Yesus, bahkan malaikat-malaikat di surga dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri yang mengetahuinya. Saya berpendapat bahwa Yesus mengatakan kalimat ini dengan tujuan agar para murid-Nya tidak mempersoalkan kapan Dia akan datang kembali. Dia mengharapkan mereka, termasuk kita untuk memiliki sikap yang benar dalam menantikan kedatangan-Nya.

 

Melalui perikop ini, Yesus berbicara mengenai tiga sikap, yang secara khusus dialamatkan kepada generasi pada masa itu: “sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi” (ayat 34). “Semuanya itu” merujuk pada tribulation atau penderitaan besar yang dilukiskan dalam ayat 4-29. Ketiga sikap yang harus kita miliki untuk menantikan kedatangan-Nya adalah: alertness atau kewaspadaan (ayat 37-42), readiness atau bisa diterjemahkan dengan kesiagaan (ayat 43-44), dan faithfulness atau kesetiaan (ayat 45-51).

 

Alertness Atau Kewaspadaan (Matius 24:37-42)

 

Dalam bagian ini Yesus memakai kisah Air Bah di zaman Nuh sebagai ilustrasi untuk menggambarkan kedatangan Anak Manusia. Dia menyoroti sikap yang dimiliki orang-orang pada zaman Nuh itu, yaitu karakteristik generasi yang tidak peduli dengan akan terjadinya air bah. Mereka tidak menaruh perhatian tentang hal-hal yang berkenaan dengan Allah, padahal selain Nuh ditugaskan untuk membangun bahtera, ia juga harus menyampaikan bahwa air bah akan melanda bumi, dan berseru kepada mereka untuk bertobat. Tetapi mereka mencemoohnya, sehingga semua manusia di muka bumi mati ditelan air bah, dan hanya Nuh sekeluarga yang selamat.

 

Sikap acuh orang-orang pada zaman Nuh itu juga yang tampak pada orang-orang yang hidup pada zaman Yesus di bumi ini. Banyak orang menolak untuk mengenal Dia sebagaimana seharusnya. Dia telah menyembuhkan berbagai jenis penyakit, mengusir setan-setan, mengubah air menjadi air anggur, meneduhkan ombak dahsyat, membangkitkan orang mati, dan melakukan banyak perbuatan yang ajaib; tetapi tetap saja mereka menolak untuk percaya pada-Nya. Bahkan para pemimpin agama Yahudi dengan tegas berusaha menyudutkan Yesus dan menyatakan bahwa Yesus mengusir setan-setan dengan kuasa Setan (Matius 12:24).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *