Renungan

Tawanan yang Menawan dan Tahanan yang Membebaskan

Oleh: Sony Okfianto

Naaman adalah panglima angkatan bersenjata Siria yang sangat dicintai dan dihargai oleh raja Siria. Sebab, melalui Naaman, Tuhan telah memberikan kemenangan kepada tentara Siria. Naaman adalah seorang panglima yang perkasa, tapi ia berpenyakit kulit yang mengerikan.  

Pada suatu waktu orang Siria menyerbu negeri Israel. Dalam penyerbuan itu seorang anak perempuan Israel ditangkap dan diangkut sebagai tawanan, kemudian menjadi pelayan bagi istri Naaman.

Pada suatu hari berkatalah pelayan itu kepada majikannya, “Nyonya, sekiranya tuan pergi menemui nabi yang tinggal di Samaria, pastilah nabi itu akan menyembuhkan tuan.”

2 Raja–raja 5:1-3

Sebagai seorang anak, saya tidak mempunyai banyak terlalu kenangan dengan ayah. Dari sedikit kenangan tersebut, salah satunya sangat membekas. Yakni ketika ayah harus berurusan dengan polisi hingga akhirnya harus dipenjara selama sekitar 2 tahun. Bukan karena ayah mencuri, merampok atau melakukan kejahatan lainnya, namun niat baik ayah yang disalahgunakan. Seseorang mengaku kehilangan ijazahnya dan membutuhkan ijazah tersebut untuk suatu keperluan. Kebetulan ayah bekerja di bidang percetakan, orang tersebut minta tolong dibuatkan ijazah. Ayah tahu bahwa hal tersebut tidak dapat dibenarkan, tapi karena orang tersebut memohon dengan sangat, ayah pun luluh dan membuatkan ijazah asli tapi palsu. Ternyata ijazah aspal tersebut digunakan untuk mengikuti pemilihan kepala desa.

Niat untuk menolong membawa ayah harus menjalani sebagaian hidupnya dalam penjara. Ibu harus menjadi tulang punggung keluarga, mencukupi kebutuhan hidup dan sekolah 4 orang anak. Sangat tidak mudah. Beberapa kali saya mendampingi ibu, dengan naik bis, kami menjenguk ayah di penjara di luar kota. Saat itu, keluarga kami merasakan betapa tidak menyenangkan melihat ayah menjadi tahanan.

Namun Tuhan memiliki rencana yang sungguh di luar pikiran manusia. Latar belakang ayah yang pernah menempuh kursus Alkitab membuatnya dipercaya oleh petugas untuk menjadi pembimbing rohani bagi para tahanan dan napi yang ada. Tidak hanya mengajar dan mendampingi mereka selama di penjara, beberapa bahkan tinggal di rumah kami ketika mereka sudah menyelesaikan masa hukuman penjara. Ayah membimbing mereka kembali ke jalan yang benar dan membekalinya dengan keahlian sederhana di bidang percetakan.

Kisah yang kurang lebih sama dapat kita temukan pada ayat Firman Tuhan diatas. Yao=itu sebuah kisah singkat tentang seorang gadis muda yang tidak hanya sekedar menjadi tawanan perang, namun juga menjadi pelayan di tempat tinggal musuhnya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis yang harus hidup sebagai tawanan perang dan menjadi seorang pelayan bagi panglima perang, yang adalah musuhnya? Tapi gadis yang tidak pernah disebutkan namanya tersebut tetap memelihara imannya pada Tuhan. Dia tetap memiliki citra diri yang benar. Tetap menjaga harga dirinya sebagai umat pilihan Tuhan. Hidup sebagai tawanan tidak membuatnya kehilangan harapan. Dia menjadi gadis yang bijak, yang sanggup mendapatkan hati tuannya, menjaga hidupnya dengan hati-hati dan menjauhi kejahatan. Menjaga perkataannya dari hal yang sia-sia bahkan menyampaikan kebenaran dengan meyakinkan. Sebab dia mempunyai pengetahuan tentang kebenaran yang diyakininya. Oleh dialah sang panglima perang akhirnya disembuhkan dari sakit kustanya melalui nabi Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *