Renungan Berjalan bersama Tuhan

Teguran Si Bijak

Teguran Si Bijak

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.” (Amsal 25:12)

Suatu saat ketika selesai ibadah dan berkat Tuhan sudah disampaikan, berjalanlah ke luar sang penatua bersama pengkhotbah yang pada waktu itu masih praktik satu tahun. Semua anggota jemaat antre dengan tertib untuk memberikan salam hari Minggu. Lalu, di tengah-tengah orang banyak yang saling bersalaman, ada seorang bapak yang berkata, “Banyak orang yang tidak mengerti khotbah Anda.” Dari situ berlanjut dan si pengkhotbah mengejar bapak tersebut untuk menjelaskan. Si bapak tadi hanya mengatakan bahwa semua orang dari usia muda sampai lanjut usia tidak paham apa yang Anda khotbahkan.

Bulan berikutnya ia berkhotbah kembali dan kali ini sorot matanya tertuju kepada bapak yang pernah memberikan kritik bulan lalu. Sampai-sampai bapak itu merasa canggung dan menundukkan kepalanya. Sewaktu bersalaman, bapak itu berkata, “Apakah Anda marah kepada saya? Kalau tidak, mengapa sepanjang khotbah tadi Bapak terus menatap saya?” Sang pengkhotbah pun tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya diam seribu bahasa sambil tersenyum simpul. Memang, sang pengkhotbah merasa sakit hati ketika ia mendengar kritik itu bulan lalu dan dalam hati ia berkata, “Coba bapak itu yang berkhotbah, saya akan melihat ia bisa atau tidak! Memangnya gampang membuat sebuah khotbah?” Esok harinya, sang pengkhotbah merasa tidak tenang dan akhirnya ia menghubungi bapak tadi.

Dengan tulus, bapak tersebut memberikan masukan bahwa khotbahnya itu susah dipahami karena banyak konsep yang dimunculkan, tidak ada aplikasi dan bentuk konkretnya, sama sekali tidak ada ilustrasinya. Sungguh, masukan yang luar biasa. Kemudian, sang pengkhotbah mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak itu dan berharap bapak tersebut terus memberikan masukan dan kritik yang membangun. “Jangan merasa sungkan, sampaikan saja kepada saya,” kata sang pengkhotbah. Bulan depannya, sang pengkhotbah mendapat jadwal khotbah kembali. Lalu ia mempersiapkannya dengan baik. Ia menambahkan contoh, ilustrasi, penjelasan teks yang sederhana, dan kali itu khotbahnya benar-benar bisa dimengerti dengan baik. Dan, bapak itu memberikan masukan kembali bahwa khotbahnya kali ini bagus sekali. Sang pengkhotbah sangat berharap bapak tadi menjadi penatua agar ia dapat memberikan masukan yang baik kepada semua hamba Tuhan yang ada. Akhirnya, bapak itu bersedia menjadi penatua yang terus memberikan kritik yang membangun. Sang pengkhotbah belajar banyak dari teguran, kritikan, atau masukan yang disampaikan kepada dirinya. Memang pada mudanya semua masukan itu tidak enak dan ia merasa sakit hati dan tersinggung. Namun, setelah direnungkan kembali, ternyata teguran, kritik, dan masukan itu sangat membangun.

Orang yang mengkritik sebenarnya adalah orang yang sangat memperhatikan dan justru sangat mengasihi! Ia bukan musuh atau orang yang membenci atau tidak menyukai orang yang dikritik. Justru sebaliknya, ia adalah sahabat yang baik, yang menginginkan orang yang dikritiknya dapat berkembang lebih baik! Terpujilah orang yang memberikan teguran tepat pada waktunya, seperti yang dikatakan Amsal, seperti Cincin emas yang begitu indah dan mulia. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *