Khotbah Perjanjian Baru

Telinga Seorang Murid

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari

Lukas 4:16-30

Kemampuan mendengarkan (dan juga berkata-kata)  adalah anugerah  istimewa yang diberikan kepada manusia, yang melaluinya kita dapat berkomunikasi dan menjalin relasi bukan hanya dengan sesama manusia, melainkan juga dengan Tuhan.

Namun, dosa telah membuat kita tidak dapat mendengarkan dengan baik sehingga pesan yang baik dan diucapkan dengan hati-hati pun bisa berdampak buruk, jika kita menyimpan luka hati atau memiliki prasangka buruk terhadap orang yang mengucapkannya.

Suatu hari, saya berkata dengan tulus kepada seorang jemaat yang sedang marah kepada saya: “Saya minta maaf karena saya gagal menjalankan peran saya sebagai pendeta.” Dampaknya, orang itu semakin marah dan berkata: “Berarti saya produk gagalnya Bu Ruth?” Saya kaget dan bingung: “Lho, koq bisa begitu ya?” Ternyata orang tersebut adalah orang yang telah bertahun-tahun lamanya menyimpan luka hati terhadap figur otoritas. Ibunya seorang yang keras dan tidak bijaksana.

Teks kita berkisah tentang Tuhan Yesus di rumah ibadah di Nazaret, kota di mana Dia dibesarkan. Rumah ibadah atau sinagoge adalah sebuah tempat yang biasa dipakai untuk belajar firman Tuhan dan berdoa. Kebiasaan pada waktu itu adalah, setiap hari Sabat mereka berkumpul di sana, memulai ibadah dengan pengakuan iman, berdoa dan membaca serta mempelajari Alkitab. Setiap orang dewasa berhak untuk membacakan sebagian dari firman Tuhan dan memberi komentar atau mengkhotbahkannya.

Ketika Tuhan Yesus memberi isyarat bahwa Dia mau membacakan firman Tuhan dan memgkhotbahkannya, kepada-Nya diberikan teks Yesaya 61:1-2 yang berisi nubuat tentang kedatangan Mesias. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Setelah selesai membaca, Tuhan Yesus menutup kitab tersebut, mengembalikannya kepada pejabat rumah ibadah, duduk dan mulai mengajar. Alkitab tidak mencatat semua yang dikatakannya mengenai teks tersebut, yang tentunya menjelaskan maknanya, tetapi langsung mencatat kesimpulannya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Artinya, secara tidak langsung Dia sedang berkata bahwa Dialah Sang Mesias yang dinubuatkan oleh teks tersebut.

Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus adalah sebuah kebenaran, namun apakah kata-kata Tuhan Yesus itu berdampak baik?

Apa Dampak Kata-Kata Tuhan Yesus?

Jika kita melihat sepintas catatan Lukas, nampaknya kata-kata Tuhan Yesus berdampak baik.

Ayat 22 berkata: Dan semua orang membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya dan berkata: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Bisa diterjemahkan: “Wow, bukankah Dia ini anak Yusuf si tukang kayu itu ya? Koq bisa berbicara sebagus itu ya?” Saya pernah berjumpa dengan teman sekelas saya waktu di SD dan dengan heran dia berkata: “Koq kamu bisa khotbah ya? Dulu kan pendiam dan pemalu banget?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *